Saturday, January 28, 2017

Sendok

Amir dan Sutikno anehnya adalah kawan karib. Disebut aneh karena keduanya memiliki latar belakang absurd. Amir sedang gadrung ilmu agama. Sedangkan Sutikno kesengsem wisata kuliner. Hobinya makan, perutnya suka bunyi kruyuk-kruyuk. Adalah Amir yang seringnya menjadi partner Sutikno makan. Tapi...


Bakso

Dua mangkuk bakso sudah tersaji di depan Amir dan Sutikno. Saus, kecap, dan sambal disediakan si penjual bakso yang sudah punya warung menetap sendiri. Sendok dan grapu pun tak lupa pula diberikan kepada mereka.

Sutikno sudah bersiap menyantap bakso dengan sendok dan garpu. Ia hendak menusuk bakso dengan garpu ditangan kiri dan membaginya jadi dua dengan sendok ditangan kanan. "Tunggu!" Amir tiba-tiba berseru.

Mulut dan kedua tangan Sutikno sudah dalam posisi bersedia. "Jangan pakai garpu," kata Amir sembari mengambil garpu yang sudah digenggam Sutikno. Yang garpunya direnggut hanya bisa bengong, bingung. Sementara Amir tak ambil pusing dengan raut wajah Sutikno. Amir sendiri juga tak menggunakan garpu. Sendok tok! Sekejap mereka kembali makan bakso. Mungkin biar abang bakso nggak repot mesti cuci garpu, begitu pikir Sutikno. Ia tersenyum dan melahap bakso atom bulat-bulat tanpa perlu dibagi dua dan hanya pakai sendok.


Mie Ayam

Kali lain, Amir dan Sutikno sedang berjalan santai sambil nyanyi lagu poco-poco. Saat di pengkolan jalan, ada gerobak mie ayam. Sementara abang penjualnya sedang tidur di bawah pohon asem. Perut Sutikno langsung kruyuk-kruyuk, matanya berbinar cerah. Tanpa komando ia sudah berlari menghampiri gerobak mie ayam. "Bang, mie ayam dua ya. Makan disini," teriak Sutikno. Amir kaget sesaat, tapi langsung mengejar Sutikno. Sementara abang penjual mie ayam bangun dari mimpi indah karena kaget diteriakin.

"Ini," kata yang jual dengan muka kecut menahan ngantuk.

Sutikno menuangkan tiga sendok sambal, sedangkan Amir sibuk berdoa sebelum makan. Perangkat makannya sendok dan sumpit. Sutikno mulai mengaduk mie ayam dan sambal dengan sendok dan sumpit. Kali ini Amir mencomot sumpit Sutikno.

Sutikno lagi-lagi bengong dan bingung. "Bang, minta garpu dong," kata Sutikno kepada penjual mie ayam.

"Gak usah, bang," potong Amir. Si abang penjual mie ayam yang sudah mengambil garpu langsung urung memberikannya ke Sutikno.

"Kenapa?" Sutikno bertanya kali ini kepada Amir. Tapi nada pertanyaannya tanpa sengaja dan meluncur begitu saja.

Amir mulai memakan mie ayam miliknya dengan sendok. Ia potong mie agar bisa terambil dengan sendok. "Nggak boleh pake selain sendok," jawabnya kalem.

Sutikno makin bingung. Makan mie apapun sejak ia kecil dilakukan dengan menggunakan garpu atau sumpit. Orang tuanya mengajarkan begitu. Lingkungan sekitarnya juga begitu. Amir dulu juga begitu, kok. Makan mie pasti dengan garpu atau sumpit. Tapi Sutikno ingat saat mereka masih kecil, pernah juga makan mie pakai tangan. Belum cuci tangan pula si Amir itu. Sutikno jadi tertawa sendiri. Sekejap ia tak ambil pusing dengan dirampasnya sumpit untuk makan mie ayam oleh Amir. Mungkin si Amir mau eksperimen kali, kata Sutikno dalam hati. Makan mie pakai sendok.


Pizza

Sehabis nonton telenovela di televisi, Sutikno ingin makan pizza. Makanan asal Italia itu muncul dalam adegan kencan Miranda dengan Jose Geraldo. Sutikno jadi ngiler. Seperti biasa, Amir nyaut saat Sutikno minta ditemani.

"Pizza Margareta, mbak. Yang pinggirannya keju Mozilla, topping-nya daging, tomat dan jagung muda. Pizza yang rasa rendang loh, mbak. Jangan rasa gulai. Ukurannya yang bisa bikin kenyang, mbak," Sutikno menyebut pesanannya kepada mbak pramusaji. Tak lupa pesanan Sutikno diakhiri dengan seulas senyum manis. Mbak pramusaji mencatat serius pesanan Sutikno meski sering putar bola mata karena bingung. Sementara Amir dari tadi celingak-celinguk melihat sekeliling. Ini kali pertama Amir dan Sutikno menjelajah makanan asing.

Setelahnya pramusaji restoran menyiapkan dua piring makan lengkap dengan pisau dan garpu. Tak lama kemudian pesanan pizza Sutikno datang. "Mbak, tolong bawakan sendok ya," Amir berkata. Sutikno lagi-lagi hanya bisa melongo mendengar permintaan Amir. Mbak pramusaji juga keningnya langsung berkerut.

"Apa, mas?" Tanya mbak pramusaji.

"Sendok," jawab Amir, singkat dan kalem.

"Mir, makan pizza pakai sendok?" Tanya Sutikno sambil berbisik. Ia tak yakin temannya sedang bercanda saat ini. Tapi makan pizza dengan sendok?

"Harus pakai sendok," tegas Amir.

"Pakai tangan aja, Mir," usul Sutikno. Amir menggeleng. Sutikno meringis, ikut juga minta sendok.


Steak

Sutikno sedang ngidam mau makan steak. Ia kemimpi makan daging dengan saus lada hitam. Kok lihat di televisi orang makan begituan bikin ngiler. Tanpa basa-basi, Sutikno pun segera menarik Amir untuk menemaninya makan makanan bule.

Begitu sampai restoran steak Abubakar, Sutikno segera pesan dua piring steak tenderloin. Amir yang juga ikutan baca menu makanan langsung protes. "Satu yang dagingnya wahyu ya, mbak."

"Wahyu?," tanya Sutikno.

Amir mengangguk yakin. "Biar barokah dagingnya. Yang punya wahyu pasti halal."

Si mbak pramusaji menahan tawa. "Wagyu ya, mas?"

Amir tetap mengangguk. Sutikno masih juga bingung. Agak lama ia terdiam sambil mencerna jawaban Amir. Oh, karena dagingnya sudah mendapat wahyu, akhirnya Sutikno sampai pada kesimpulan. Pantas harga dagingnya lebih mahal.

Pesanan datang lengkap dengan garpu dan pisau. Sutikno tak sabar ingin mengiris daging steak kecil-kecil. Aroma saus lada hitam sudah membikin perutnya tak tahan. Lain dengan Sutikno, Amir justru cemberut. "Mbak, saya minta sendok," ujarnya cepat sebelum Mbak pramusaji menghilang.

"Sendok buat apa, mas?" Tanya si mbak pramusaji.

"Untuk makan dong," jawab Amir.

Kali ini Sutikno tak habis pikir kenapa makan steak mesti juga pakai sendok? Kenapa semua makanan yang Amir makan harus menggunakan sendok? Dulu Amir tak begini-begini amat. Ia mengeleng-gelengkan kepala. "Mir, kenapa semua harus pakai sendok?"

Amir menatap kawannya lekat. "Makan apapun tanpa sendok kalau kamu mati bisa masuk neraka, No. Pak Kanjeng pernah bersabda, barang siapa makan tanpa sendok tempatnya di neraka. Makanya kamu belajar yang bener."

Sutikno baru kali ini jiwanya nelongso.


(Jakarta, 24 Januari 2017)

No comments:

Post a Comment