Saturday, June 30, 2018

Di Mulia Agung Senen


(Doc. FKS)


Aku sudah menduga dia bakal tamat juga pada akhirnya, terkubur di sana sendirian. Yang bakal tersisa darinya hanya nama dan kenangan orang-orang lama. Melewatinya sekali lagi di sore hari yang terik, hatiku kecut juga. Tak hanya cerita yang ikut tertinggal, serpih-serpih cintaku mati bersamanya.
Ia masih kokoh meski sudah renta. Banyak sisi dinding yang  meremah dan cat mengelupas menampakkan kepayahannya bertahan hidup. Pada tahun 70-an hingga 80-an, bioskop yang terletak di simpang Senen ini digdaya. Saat itu aku belum terbit di dunia. Orang tuaku juga mungkin hanya pernah sekali pacaran di sana. Yang jelas bioskop itu dulu tempat gaul anak muda Ibukota.
Aku penikmat kenangan masa lalu. Cerita sejarah mengantarkan rasa romantis pada hidup. Mengais cerita-cerita lama dari kota tempatku lahir dan besar salah satu upaya memelihara perasaan itu. Aku jatuh cinta pada Mulia Agung saat ia masuk “Arena” Jakarta Biennale 2009. Ia membuatku ingin kenal lebih dalam denganya, bioskop itu. Aku ingin mencumbui rasa menonton film di dalamnya.
“Ayo kesana!” Adam menyambut ajakanku.
Ceringan langsung terpampang pada wajah, sumringah. Kedua mataku rasanya sedang berparade pesta kembang api. 
Adam satu-satunya yang mau menemaniku nonton di Mulia Agung. Kawan-kawan lain yang kuceritakan pengin jajal nonton di sana mengataiku sinting. Aku nggak sinting sepenuhnya, hanya separuh. Kawan cewek yang kuajak tak menggubris, sementara para cowok itu kebanyakan bergidik. “Ogah, ah. Di sana banyak homo,” kata mereka. Hanya Adam yang mengiyakan ajakanku. Sengaja kuajak ia agar aku disangka pacaran, bukan perempuan tunasusila. Karena banyak cerita juga tempat itu tak cuma untuk nonton, tapi juga “atraksi suka-suka”. 
Adam jangkung dan kurus. Ia berkulit coklat dengan senyum manis, tapi sering bengong dan menatap lama kalau aku bicara. Kami satu jurusan di universitas. Lelaki ini naksir aku sejak pertama kali ketemu. “Aku fans kamu. Seumur hidup!” Begitu Adam selalu berdeklamasi saat kami ngobrol atau jalan bareng. Ajakanku bersambut oleh Adam bukan sesuatu yang janggal juga. Aku justru gembira dan nggak sabar berpetualang!
“Kita coba yang jam 7 malam, yuk!” Aku memutuskan.  Mulia Agung hanya putar film malam pada jam 7 dan 9. Kupikir jam 7 waktu pas saat orang mulai ramai datang ke sana dan malam belum terlalu larut. 
“Oke.”
*
Jantungku berdegup tak karuan. Aku deg-degan. Adam di sampingku terlihat santai sambil tengok kiri-kanan. Hampir semua yang datang ke sini cowok aneka usia. Hanya ada satu-dua perempuan menjelang baya yang bersolek menor dan ngobrol sebentar dengan pengunjung lain. 
Aku tahu mereka diam-diam mengamati kami. Udara di sekitarku terasa mencekam, seolah ada tembok tak kasat mata dan lapisan udara tak tertembus yang melingkupi antara kami dan mereka. Bagi mereka, aku dan Adam orang asing, orang tak dikenal yang tiba-tiba datang tanpa undangan ke wilayahnya.
Penampilan kami biasa saja sebenarnya, hanya kenakan jeans dan kaos dodor sama seperti sebagian dari mereka. Aku meremas pelan jaket Adam yang sedang beli tiket. Harga tiketnya hanya Rp 5.000 per orang. “Murah banget,” bisikku, tak bisa sembunyikan rasa kaget.
Adam hanya tersenyum dan menggamit lenganku, menarik segera masuk studio yang ada di samping loket. Aku bilang tunggu dulu. Aku takut bakal ada orang menghampiri dan tanya tujuan kami kemari. Atau tiba-tiba Adam diajak taruhan lebih besar untuk menangkan hargaku karena disangka satu pekerjaan dengan ibu menor itu. Tampangku lumayan dengan kulit putih dan wajah bersih tanpa pulasan kosmetik. Siapa sih perempuan waras dan baik-baik yang nekad nonton film di Mulia Agung Senen? Ya cuma aku aja. Sisanya, mungkin perempuan baik-baik tapi kurang waras atau nggak baik-baik tapi waras. 
“Jangan gitu ngeliatnya. Biasa aja. Yang ada kamu makin dicurigai aneh-aneh,” Adam mengingatkan. Aku berdeham dan menarik napas dalam-dalam. Lelaki ini masih juga nyengir. Ia tampak sangat menikmati malam kami yang di luar kebiasaan banyak orang.
Jam sudah menunjukkan pukul 7. Belum tampak pengunjung segera masuk ke studio. Sebagian masih asik merokok sambil ngobrol atau melobi dengan perempuan menor yang sedari tadi sibuk kesana-kemari.
*
Konsentrasiku buyar. Mereka memutar film semi porno dari Cina yang rilis tahun 80-an akhir. Bukan karena ada sempilan adegan-adegan panas yang buat aku lepas fokus menikmati film, melainkan kondisi di dalam studio.
Kami pilih duduk di baris tengah dekat pintu masuk. Penonton lain pun juga ikut masuk tak lama setelah jam putat film mulai dan lampu studio dimatikan. Hanya ada satu perempuan tua yang berhasil mencapai kata sepakat dengan pengunjung. Mereka sudah saling rangkulan dan ciuman panas di kursi depan dekat layar. Pemandangan ini langsung buatku gelisah. 
Sebelum duduk, kuraba bangku siapa tahu ada jarum suntik tersembunyi bakal menusuk pantatku. Aku pernah baca tulisan di internet agar hati-hati saat nonton film di bioskop. Ada orang yang sengaja taruh jarum suntik isi virus HIV di bangku bioskop untuk menulari penyakit. Awalnya kuanggap info itu konyol. Apa iya ODHA (Orang dengan HIV Aids) bisa tega sama orang sehat lainnya? Apa iya orang yang nggak ada sangkut pautnya dengan sejarah sakit mereka perlu“dihukum” sama? Itu jalan pikiran yang ngawur banget. Tapi di tempat ini, terlebih aku dan Adam orang asing tak diundang bisa saja disuguhi hadiah perkenalan aneh-aneh. 
“Ayo duduk,” bisik Adam sambil menarik tanganku. “Aman, kok.” Dia memang penggemar nomor satu yang bisa baca isi pikiran idolanya. Aku melotot pada Adam yang masih tersenyum manis.
Tak hanya itu, para penonton yang sudah duduk di kursi merah reot dan apak  tampak asik sendiri. Mereka juga sama kayak aku, sama-sama nggak mudeng cerita filmnya. Malah ada yang pindah-pindah kursi karena studio tak terisi penuh. Bahkan ada orang mondar-mandir di depan, samping dan belakang kami secara berkala. Entah apa tujuan mereka, tapi aku merasa sedang diawasi dengan seksama. Aku nggak berani noleh kiri-kanan sampai sudut 180 derajat, apalagi 360 derajat. Leherku kaku di posisi sama sejak memasuki studio dengan arah pandang hanya ke depan layar. 
Kulirik Adam. Ia tampak rileks menikmati film. Aku yakin ia juga sama cemasnya denganku. Kami punya hubungan cukup dekat sebagai teman cerita. Sedikit banyak aku kenal sifatnya. Tampangnya bisa polos seolah nggak ada apa-apa, tapi dia cuma berusaha tabah aja. 
Adam balas menatap. Ia ambil tanganku dan meremas pelan. Kemudian menarik tubuhku mendekat, tangannya melingkar di pundak. Aku diam saja, tahu pria ini nggak punya maksud aneh-aneh karena sengat seksualitas kental di sini. Ia cuma mau menenangkan, menghalau risauku dan risaunya sendiri.
“Perlindungan penggemar buat idolanya,” kata Adam pelan di telingaku. Aku meringis.
*
Misi sintingku berhasil. Semua berkat Adam yang rela diri mewujudkan kepenginanku. Aku nggak ingat kami nonton film dengan cerita apa sebenarnya. Nuansa mencekam selama hampir dua jam di Mulia Agung lebih dominan ketimbang film yang tayang. Anehnya perasaan mencekam ini buatku ingin coba lagi kesana. Aku ingin memastikan rasa takut dan penasaran itu hanya berlaku saat pertama aja atau nggak. 
Aku mengaku takut, tapi ingin lagi merasakannya. Terlebih aku masih penasaran aktivitas di kamar mandi samping layar. Orang sesekali ke kamar mandi buang hajat saat nonton film itu biasa, tapi di Mulia Agung banyak orang berduyun ke kamar mandi. Aku nggak tahu ada berapa bilik kloset di dalamnya, yang jelas selalu ada orang masuk dan keluar tanpa henti. Jumlah mereka terlalu banyak untuk sekedar antri buang air dan kembali duduk tenang.
“Aku penasaran ada apa di sana,” kataku ke Adam saat di kantin kampus. Mustahil bagiku rasanya menengok ke toilet itu sendirian. Mereka yang bolak-balik dan antri di toilet semua cowok. Apa yang bisa kuharapkan dari diri sendiri soal itu?
Adam nggak keberatan pergi kesana lagi. Ia senang aja nemenin aku. Maka, malam itu juga kami kembali ke Mulia Agung setelah dua minggu lalu nonton di sana. 
Perasaan terancam dan diawasi ternyata masih saja ada. Aku belum kunjung bisa rileks dan abai pada pandangan asing orang-orang di sini. Penjaga karcis yang menyobek tiket kami tak juga menampakkan raut ramah meski kuyakin ia sadar kami sudah pernah kemari. Aku dan Adam masih memilih tempat duduk dekat pintu masuk. Kursi barisan atas atau depan lebih banyak diisi pengunjung yang masih juga berkelakuan sama dengan kali pertama kami ke sini. Kali ini film yang diputar semi porno dari Korea. 
Tak perlu menunggu tengah film untuk tahu ada yang nggak beres dengan kamar mandi. Orang sudah mulai bolak-balik ke situ. “Kamu coba lihat kamar mandi, deh. Ada apa sih di sana?”
“Ditinggal dulu nggak apa?”
“Jangan lama-lama.” Adam mengangguk dan bergegas pura-pura mau kencing. Aku deg-degan ditinggal sendiri, tapi coba menikmati film yang tetap nggak kutahu jalan ceritanya. Hanya potongan adegan seorang perempuan muda dengan gaun merah masuk ke rumah seorang pria gendut tua, kemudian mereka bercinta tanpa forplay. Nggak bikin aku birahi. Orang yang berkeliling seolah polisi mengawasi area juga masih ada. Aku cuma bisa telan ludah, semoga Adam cepat balik dari kamar mandi.
*
Adam juga nggak tahu pasti apa yang membuat isi kamar mandi ramai orang. Katanya, untuk ukuran kamar mandi pria, banyak orang di sana memang aneh. Kamar mandinya sendiri bau pesing dan jorok. Saat ia mau pura-pura kencing, ada saja orang yang dekatin sambil melirik atau melongok “barang” si Adam. Tentu bikin jengah. Makanya Adam pilih bilik mandi untuk beneran kencing.
Di kepalaku langsung banyak spekulasi macam-macam. Bioskop itu bisa jadi tempat esek-esek nggak cuma untuk laki dan perempuan, tapi dominan bagi sesama cowok. Aktivitasnya mungkin di kamar mandi. Tapi saat Adam masuk nggak terlihat ada indikasi itu. “Yah, mereka sih langsung jaga jarak waktu aku masuk. Suasananya jadi canggung gitu,” katanya.
Rasa penasaranku pelan-pelan terpenuhi, tapi keinginan untuk kembali ke Mulia Agung selalu ada. Bioskop itu enigma, misteri buatku. Ia bikin ketagihan untuk selalu dikunjungi. Perasaan was-was yang hadir padaku tiap datang kesana begitu indah, romantis, nyeleneh, ekletik. Pengalaman nonton di Mulia Agung lain dari yang disuguhkan bioskop pada umumnya. Kami nggak cuma nonton film semi porno, tapi juga ketemu aktivitas lain di dalam studio.
“Kita kesana lagi, yuk!” Kali ini Adam yang berinisiatif. Aku tanya apa dia nggak kapok kesana lagi. Kupikir sebagai laki-laki pergi ke tempat semacam Mulia Senen yang punya indikasi prostitusi gay bakal bikin Adam kapok. Sebab utama teman-teman cowok yang kuajak kesana mengatai sinting ya karena itu. Desas-desus kawasan Senen penuh kaum gay bikin mereka ngeri duluan. Memang bikin ngeri, sih, tapi juga tantangan buatku yang punya rasa ingin tahu macam- macam. Saat keinginan pergi ke Mulia Agung terbit, aku penasaran banget. Sebelum terwujud, rasa penasarannya nggak akan pernah hilang. 
“Agak bikin merinding, sih. Tapi seru juga. Apalagi perginya sama kamu. Siapa tahu dari fans bisa naik kelas jadi pacar atau suami.”
Ha-ha-ha! Aku keplak kepala Adam. 
*
Sebenarnya ia penasaran sama satu hal. Setelah kembali dari kamar mandi, Adam sempat melihat ada aktivitas mencurigakan lain di baris bangku paling belakang. Banyak orang mondar-mandir dari bawah ke atas lalu kembali ke bawah. Adam nggak tahu mereka melakukan apa. Tak ada cahaya yang bisa memberikan keterangan aktivitas apa yang berlangsung di sana. Hanya kelebat orang-orang yang silih berganti. 
Kali ketiga berkunjung, perasaan was-was masih ada. Hanya saja sekarang aku bisa sedikit lebih santai. Kupikir selama kami tidak melanggar batas mereka dengan berbuat macam-macam seperti memotret suasana di dalam studio nggak akan ada masalah. Meski gatel mau mengabadikan momen pernah ke sini, aku urung. Lebih baik tepis keinginan itu biar nggak dapat masalah aneh-aneh. Orang-orang yang datang kemari bukan kaum berjas atau berdandan kelimis. Kebanyakan berasal dari menengah ke bawah.
Seperti biasa, begitu film tamat dan lampu dinyalakan, aku dan Adam bergegas keluar studio melalui pintu yang ada di samping kiri layar. Adam bangkit duluan dan langsung menengok ke belakang. Sesaat, ia menarikku segera keluar dari studio. “Kalau mau nengok ke belakang jangan lama-lama,” bisiknya saat aku sekilas ikut nengok juga. Ulala…
Rupanya deret kursi belakang ada aktivitas oral burung bergantian oleh satu atau dua laki-laki muda. Ini menjawab rasa penasaranku kenapa ada orang yang sibuk mengawasi di sekeliling kami, kenapa orang tak fokus nonton film dan sering pindah tempat, dan kenapa kamar mandi selalu penuh orang.
Aku tertawa begitu kami dalam perjalanan pulang menunggu trans Jakarta. Adam masih mengulum senyum. Kami sama-sama paham nggak usah bahas soal itu di sini. Nanti saja saat sudah jauh dari kawasan Senen. Aku senang malam ini berjalan baik, seperti makam-malam yang lalu saat kami juga ke Mulia Agung. Adam memang penggemar nomor satuku yang selalu bisa diandalkan. Aku sungguh berterima kasih padanya. Ia teman yang sangat berharga.
*
Mulia Agung sudah tamat sejak setahun lewat. Aku tak mendengar kabar kematiannya segera. Sudah lama juga aku nggak nonton di sana lagi. Setiap punya pacar, aku menantang mereka menemaniku ke Mulia Agung. Aku rindu mencicipi rasa ngeri dan awas di bioskop itu. Satu pun nggak ada yang mau. Mereka bilang bahaya meski aku bilang nggak akan ada apa-apa. Jawabannya selalu tidak dengan dibumbui alasan, “Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.” Padahal mereka hanya takut, pengecut.
Aku dan Adam nggak pernah beranjak dari hubungan penggemar dan idola seperti klaimnya. Kami tetap berteman. Melewati lagi Mulia Agung yang sudah karam, aku jadi ingat Adam. Aku rindu padanya. Sudah lama aku nggak ketemu dia. 2? 3? Atau 4 tahun? Adam lanjut sekolah di Amerika. Kami sesekali masih tanya kabar. Ia tetap ngaku penggemarku seumur hidup. Perasaanku pun padanya juga belum beranjak. 
Mulia Agung selalu mengantarkan romantisme padaku, pada orang-orang yang pernah menyimpan kenangan di sana. Aku sedih, tapi nggak menyesal. Justru bersyukur dalam satu fase singkat hidupku pernah melewati batas kecil diri sendiri. Di Mulia Agung ada rasa takut, cemas, was-was yang kubabat demi melampaui diri sendiri. Cintaku juga tumbuh di sana. Aku dan Adam pernah memasuki gerbang Platonis di Senen, di Mulia Agung.

Jakarta, 3 Maret 2018