Amir dan Sutikno anehnya adalah kawan karib. Disebut aneh karena keduanya memiliki latar belakang absurd. Amir sedang gadrung ilmu agama. Sedangkan Sutikno kesengsem wisata kuliner. Hobinya makan, perutnya suka bunyi kruyuk-kruyuk. Adalah Amir yang seringnya menjadi partner Sutikno makan. Tapi...
Bakso
Dua mangkuk bakso sudah tersaji di depan Amir dan Sutikno. Saus, kecap, dan sambal disediakan si penjual bakso yang sudah punya warung menetap sendiri. Sendok dan grapu pun tak lupa pula diberikan kepada mereka.
Sutikno sudah bersiap menyantap bakso dengan sendok dan garpu. Ia hendak menusuk bakso dengan garpu ditangan kiri dan membaginya jadi dua dengan sendok ditangan kanan. "Tunggu!" Amir tiba-tiba berseru.
Mulut dan kedua tangan Sutikno sudah dalam posisi bersedia. "Jangan pakai garpu," kata Amir sembari mengambil garpu yang sudah digenggam Sutikno. Yang garpunya direnggut hanya bisa bengong, bingung. Sementara Amir tak ambil pusing dengan raut wajah Sutikno. Amir sendiri juga tak menggunakan garpu. Sendok tok! Sekejap mereka kembali makan bakso. Mungkin biar abang bakso nggak repot mesti cuci garpu, begitu pikir Sutikno. Ia tersenyum dan melahap bakso atom bulat-bulat tanpa perlu dibagi dua dan hanya pakai sendok.
Mie Ayam
Kali lain, Amir dan Sutikno sedang berjalan santai sambil nyanyi lagu poco-poco. Saat di pengkolan jalan, ada gerobak mie ayam. Sementara abang penjualnya sedang tidur di bawah pohon asem. Perut Sutikno langsung kruyuk-kruyuk, matanya berbinar cerah. Tanpa komando ia sudah berlari menghampiri gerobak mie ayam. "Bang, mie ayam dua ya. Makan disini," teriak Sutikno. Amir kaget sesaat, tapi langsung mengejar Sutikno. Sementara abang penjual mie ayam bangun dari mimpi indah karena kaget diteriakin.
"Ini," kata yang jual dengan muka kecut menahan ngantuk.
Sutikno menuangkan tiga sendok sambal, sedangkan Amir sibuk berdoa sebelum makan. Perangkat makannya sendok dan sumpit. Sutikno mulai mengaduk mie ayam dan sambal dengan sendok dan sumpit. Kali ini Amir mencomot sumpit Sutikno.
Sutikno lagi-lagi bengong dan bingung. "Bang, minta garpu dong," kata Sutikno kepada penjual mie ayam.
"Gak usah, bang," potong Amir. Si abang penjual mie ayam yang sudah mengambil garpu langsung urung memberikannya ke Sutikno.
"Kenapa?" Sutikno bertanya kali ini kepada Amir. Tapi nada pertanyaannya tanpa sengaja dan meluncur begitu saja.
Amir mulai memakan mie ayam miliknya dengan sendok. Ia potong mie agar bisa terambil dengan sendok. "Nggak boleh pake selain sendok," jawabnya kalem.
Sutikno makin bingung. Makan mie apapun sejak ia kecil dilakukan dengan menggunakan garpu atau sumpit. Orang tuanya mengajarkan begitu. Lingkungan sekitarnya juga begitu. Amir dulu juga begitu, kok. Makan mie pasti dengan garpu atau sumpit. Tapi Sutikno ingat saat mereka masih kecil, pernah juga makan mie pakai tangan. Belum cuci tangan pula si Amir itu. Sutikno jadi tertawa sendiri. Sekejap ia tak ambil pusing dengan dirampasnya sumpit untuk makan mie ayam oleh Amir. Mungkin si Amir mau eksperimen kali, kata Sutikno dalam hati. Makan mie pakai sendok.
Pizza
Sehabis nonton telenovela di televisi, Sutikno ingin makan pizza. Makanan asal Italia itu muncul dalam adegan kencan Miranda dengan Jose Geraldo. Sutikno jadi ngiler. Seperti biasa, Amir nyaut saat Sutikno minta ditemani.
"Pizza Margareta, mbak. Yang pinggirannya keju Mozilla, topping-nya daging, tomat dan jagung muda. Pizza yang rasa rendang loh, mbak. Jangan rasa gulai. Ukurannya yang bisa bikin kenyang, mbak," Sutikno menyebut pesanannya kepada mbak pramusaji. Tak lupa pesanan Sutikno diakhiri dengan seulas senyum manis. Mbak pramusaji mencatat serius pesanan Sutikno meski sering putar bola mata karena bingung. Sementara Amir dari tadi celingak-celinguk melihat sekeliling. Ini kali pertama Amir dan Sutikno menjelajah makanan asing.
Setelahnya pramusaji restoran menyiapkan dua piring makan lengkap dengan pisau dan garpu. Tak lama kemudian pesanan pizza Sutikno datang. "Mbak, tolong bawakan sendok ya," Amir berkata. Sutikno lagi-lagi hanya bisa melongo mendengar permintaan Amir. Mbak pramusaji juga keningnya langsung berkerut.
"Apa, mas?" Tanya mbak pramusaji.
"Sendok," jawab Amir, singkat dan kalem.
"Mir, makan pizza pakai sendok?" Tanya Sutikno sambil berbisik. Ia tak yakin temannya sedang bercanda saat ini. Tapi makan pizza dengan sendok?
"Harus pakai sendok," tegas Amir.
"Pakai tangan aja, Mir," usul Sutikno. Amir menggeleng. Sutikno meringis, ikut juga minta sendok.
Steak
Sutikno sedang ngidam mau makan steak. Ia kemimpi makan daging dengan saus lada hitam. Kok lihat di televisi orang makan begituan bikin ngiler. Tanpa basa-basi, Sutikno pun segera menarik Amir untuk menemaninya makan makanan bule.
Begitu sampai restoran steak Abubakar, Sutikno segera pesan dua piring steak tenderloin. Amir yang juga ikutan baca menu makanan langsung protes. "Satu yang dagingnya wahyu ya, mbak."
"Wahyu?," tanya Sutikno.
Amir mengangguk yakin. "Biar barokah dagingnya. Yang punya wahyu pasti halal."
Si mbak pramusaji menahan tawa. "Wagyu ya, mas?"
Amir tetap mengangguk. Sutikno masih juga bingung. Agak lama ia terdiam sambil mencerna jawaban Amir. Oh, karena dagingnya sudah mendapat wahyu, akhirnya Sutikno sampai pada kesimpulan. Pantas harga dagingnya lebih mahal.
Pesanan datang lengkap dengan garpu dan pisau. Sutikno tak sabar ingin mengiris daging steak kecil-kecil. Aroma saus lada hitam sudah membikin perutnya tak tahan. Lain dengan Sutikno, Amir justru cemberut. "Mbak, saya minta sendok," ujarnya cepat sebelum Mbak pramusaji menghilang.
"Sendok buat apa, mas?" Tanya si mbak pramusaji.
"Untuk makan dong," jawab Amir.
Kali ini Sutikno tak habis pikir kenapa makan steak mesti juga pakai sendok? Kenapa semua makanan yang Amir makan harus menggunakan sendok? Dulu Amir tak begini-begini amat. Ia mengeleng-gelengkan kepala. "Mir, kenapa semua harus pakai sendok?"
Amir menatap kawannya lekat. "Makan apapun tanpa sendok kalau kamu mati bisa masuk neraka, No. Pak Kanjeng pernah bersabda, barang siapa makan tanpa sendok tempatnya di neraka. Makanya kamu belajar yang bener."
Sutikno baru kali ini jiwanya nelongso.
(Jakarta, 24 Januari 2017)
Saturday, January 28, 2017
Sunday, January 22, 2017
DINDING
"Saya ingin pagar rumah dibuat dinding," kata Pak Surya sambil menyibakkan lengan kanannya, memaksudkan agar area halaman rumah yang sedang dibangun dibatasi dinding bata. "Seluruhnya," tambahnya.
Arsitektur yang dipekerjakan Pak Surya mengangguk. Ia setuju mengabulkan permintaan kliennya. Namun seketika mendelik, heran. "Pintu masuknya tak hendak dibuat, Pak?"
Pak Surya terdiam sesaat. Matanya terpusat ke depan, ke arah calon pagar dinding rumah yang masih ada di angan-angan. "Buatkan saja satu pintu masuk yang hanya muat untuk satu orang lewat," akhirnya Pak Surya memutuskan dan menganggukkan kepala sendiri dengan mantab.
Pak Surya, pria pertengahan 40 tahun berbadan tegap dan berkepala plontos ini tersenyum. Membangun dinding sebagai pagar adalah impiannya sejak lama. Dinding itu akan menjadi pembatas dunia baru baginya. Sebuah dunia yang lebih subtil, personal, dan eksentrik. Dunia di luar pagar rumahnya adalah dunia yang bising bagi Pak Surya. Orang kiri-kanan, atas-bawah mendadak dirasuki keyakinan fanatik terhadap hendak memelihara kambing atau onta. Harus pilih salah satu, tidak boleh keduanya atau tak memilih apapun. Ini absurd.
Sejak beberapa waktu belakangan, tepatnya saat dunia selebar layar komputer, orang sibuk berkelahi dan mencari massa demi kambing atau onta. Kalau pilih kambing, yang lain masih boleh diversifikasi dengan pelihara sapi, ayam atau bebek. Tapi kalau pilih onta, dan wajib pilih onta maka yang selain onta adalah salah. Saat keduanya bertemu muka bisa-bisa kelahi tanpa ujung. Hulu semua ini disulut oleh kepentingan segelintir orang yang meramu sedikit kebodohan cum kebencian untuk dicekokkan kepada banyak orang.
Orang-orang seperti Pak Surya yang tak mau pilih keduanya lebih banyak diam sembari menyemai bibit lele. Pak Surya sendiri lebih senang pelihara bebek dan melukis. Kalau mereka sudah besar bisa dipotong untuk dimasak dengan bumbu khas Madura.
Dinding yang hendak dibangun Pak Surya selain untuk membatasi dunia luar yang begitu bising dan menjemukkan, juga akan dipakainya menumpahkan yang terlintas dalam pikiran dengan cara yang nyentrik tanpa mengganggu hak orang lain. Ia punya mimpi menggambar angkasa. Lain waktu ia kemimpi menulis puisi dengan kata-kata membara. Ia juga ingin melukis abstrak dan menuangkan yang terpendam dalam ketidaksadarannya. Bahkan, Pak Surya berencana kelak akan menghancurkan dinding itu dengan gada, kemudian dibangun lagi dengan kedua tangannya.
Dinding itu kelak menjadi prasasti hidup Pak Surya. Bahwa ada kebebasan yang ingin ia jaga dan rawat baik. Ia hendak pelihara bebek dan melukis-menulis apapun di dinding. Orang tak perlu ribut dengan pilihannya. Ia tak mau wilayah kudus itu dirusak oleh mereka yang tengah berperang di luar sana. "Aku tak mau kebebasanku dirusak oleh mereka yang tak menghargainya," Pak Surya berkata suatu kali.
Suatu waktu, beberapa orang dengan bendera dan jubah bergambar onta datang ke rumah Pak Surya. Mereka mau tak mau mesti masuk satu persatu, karena pintu hanya muat dilewati satu orang. Keinginan memasukkan usungan bendera dan atribut lain seperti foto onta terpaksa ditinggal di luar pagar dinding. Tak muat itu semua dimasukkan.
Mereka begitu berisik memanggil-manggil Pak Surya untuk keluar. "Anda pilih berpihak pada yang mana? Onta atau kambing? Jangan hanya diam dan tak memilih salah satu," kata salah seorang di antara mereka begitu Pak Surya yang sedang berada di dalam rumah keluar dan berdiri di muka teras. Pak Surya hanya menatap kerumunan orang yang gaduh di teras rumahnya. Ia merasa aneh dengan kehadiran mereka merangsek masuk ke dalam kediamannya yang adi luhung. Ditatapnya satu persatu orang-orang yang sebagian membalas tatapannya, lainnya sibuk melihat hasil karyanya di dinding yang penuh dengan corat-moret.
"Anda harus memilih. Tidak bisa tidak memilih," yang lain ikut bersuara.
Kwek, kwek, kwek...
Kawanan bebek Pak Surya keluar ke halaman. Pak Surya memang saban siang dan sore membebaskan bebek-bebeknya berkeliaran di sekitar rumah. Ia percaya setiap makhluk hidup butuh jalan-jalan walau hanya sebentar dan menempuh jarak yang tak seberapa jauh.
Kerumunan prajurit onta itu terkesiap dan melototlah mata mereka. Pandangan mereka nyalang. "Kaum munafik! Sesat!" Teriak pimpinan mereka dan disambut pekikan oleh yang lainnya.
Beberapa waktu rasanya mereka terus berteriak-teriak di depan Pak Surya. Pekikan itu pun tersaingi oleh suara bebek-bebek Pak Surya yang juga mendadak ribut. Sementara itu Pak Surya makin bingung melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya. Tiba-tiba Pak Surya sadar akan sesuatu; Suara bebek-bebek dan suara pekikan massa itu terdengar sama! Sama-sama berisik! Ini sungguh hidup yang absurd, demikian ujarnya dalam hati.
Arsitektur yang dipekerjakan Pak Surya mengangguk. Ia setuju mengabulkan permintaan kliennya. Namun seketika mendelik, heran. "Pintu masuknya tak hendak dibuat, Pak?"
Pak Surya terdiam sesaat. Matanya terpusat ke depan, ke arah calon pagar dinding rumah yang masih ada di angan-angan. "Buatkan saja satu pintu masuk yang hanya muat untuk satu orang lewat," akhirnya Pak Surya memutuskan dan menganggukkan kepala sendiri dengan mantab.
Pak Surya, pria pertengahan 40 tahun berbadan tegap dan berkepala plontos ini tersenyum. Membangun dinding sebagai pagar adalah impiannya sejak lama. Dinding itu akan menjadi pembatas dunia baru baginya. Sebuah dunia yang lebih subtil, personal, dan eksentrik. Dunia di luar pagar rumahnya adalah dunia yang bising bagi Pak Surya. Orang kiri-kanan, atas-bawah mendadak dirasuki keyakinan fanatik terhadap hendak memelihara kambing atau onta. Harus pilih salah satu, tidak boleh keduanya atau tak memilih apapun. Ini absurd.
Sejak beberapa waktu belakangan, tepatnya saat dunia selebar layar komputer, orang sibuk berkelahi dan mencari massa demi kambing atau onta. Kalau pilih kambing, yang lain masih boleh diversifikasi dengan pelihara sapi, ayam atau bebek. Tapi kalau pilih onta, dan wajib pilih onta maka yang selain onta adalah salah. Saat keduanya bertemu muka bisa-bisa kelahi tanpa ujung. Hulu semua ini disulut oleh kepentingan segelintir orang yang meramu sedikit kebodohan cum kebencian untuk dicekokkan kepada banyak orang.
Orang-orang seperti Pak Surya yang tak mau pilih keduanya lebih banyak diam sembari menyemai bibit lele. Pak Surya sendiri lebih senang pelihara bebek dan melukis. Kalau mereka sudah besar bisa dipotong untuk dimasak dengan bumbu khas Madura.
Dinding yang hendak dibangun Pak Surya selain untuk membatasi dunia luar yang begitu bising dan menjemukkan, juga akan dipakainya menumpahkan yang terlintas dalam pikiran dengan cara yang nyentrik tanpa mengganggu hak orang lain. Ia punya mimpi menggambar angkasa. Lain waktu ia kemimpi menulis puisi dengan kata-kata membara. Ia juga ingin melukis abstrak dan menuangkan yang terpendam dalam ketidaksadarannya. Bahkan, Pak Surya berencana kelak akan menghancurkan dinding itu dengan gada, kemudian dibangun lagi dengan kedua tangannya.
Dinding itu kelak menjadi prasasti hidup Pak Surya. Bahwa ada kebebasan yang ingin ia jaga dan rawat baik. Ia hendak pelihara bebek dan melukis-menulis apapun di dinding. Orang tak perlu ribut dengan pilihannya. Ia tak mau wilayah kudus itu dirusak oleh mereka yang tengah berperang di luar sana. "Aku tak mau kebebasanku dirusak oleh mereka yang tak menghargainya," Pak Surya berkata suatu kali.
Suatu waktu, beberapa orang dengan bendera dan jubah bergambar onta datang ke rumah Pak Surya. Mereka mau tak mau mesti masuk satu persatu, karena pintu hanya muat dilewati satu orang. Keinginan memasukkan usungan bendera dan atribut lain seperti foto onta terpaksa ditinggal di luar pagar dinding. Tak muat itu semua dimasukkan.
Mereka begitu berisik memanggil-manggil Pak Surya untuk keluar. "Anda pilih berpihak pada yang mana? Onta atau kambing? Jangan hanya diam dan tak memilih salah satu," kata salah seorang di antara mereka begitu Pak Surya yang sedang berada di dalam rumah keluar dan berdiri di muka teras. Pak Surya hanya menatap kerumunan orang yang gaduh di teras rumahnya. Ia merasa aneh dengan kehadiran mereka merangsek masuk ke dalam kediamannya yang adi luhung. Ditatapnya satu persatu orang-orang yang sebagian membalas tatapannya, lainnya sibuk melihat hasil karyanya di dinding yang penuh dengan corat-moret.
"Anda harus memilih. Tidak bisa tidak memilih," yang lain ikut bersuara.
Kwek, kwek, kwek...
Kawanan bebek Pak Surya keluar ke halaman. Pak Surya memang saban siang dan sore membebaskan bebek-bebeknya berkeliaran di sekitar rumah. Ia percaya setiap makhluk hidup butuh jalan-jalan walau hanya sebentar dan menempuh jarak yang tak seberapa jauh.
Kerumunan prajurit onta itu terkesiap dan melototlah mata mereka. Pandangan mereka nyalang. "Kaum munafik! Sesat!" Teriak pimpinan mereka dan disambut pekikan oleh yang lainnya.
Beberapa waktu rasanya mereka terus berteriak-teriak di depan Pak Surya. Pekikan itu pun tersaingi oleh suara bebek-bebek Pak Surya yang juga mendadak ribut. Sementara itu Pak Surya makin bingung melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya. Tiba-tiba Pak Surya sadar akan sesuatu; Suara bebek-bebek dan suara pekikan massa itu terdengar sama! Sama-sama berisik! Ini sungguh hidup yang absurd, demikian ujarnya dalam hati.
Wednesday, January 18, 2017
Hoax
Mona memulas ulang lipstick sewarna darah pada bibirnya yang lebar tebal. Ia cecapkan berulang kali bagian atas dan bawah bibirnya. Tak perlu bantuan cermin untuk memastikan merata atau tidak ulasan lipstick-nya. "Aku tak masalah di media sosial sedang gadrung orang konsumsi berita hoax," ia bicara sambil tetap mencecap bibirnya. "Orang bisa saja membuat kebenaran sendiri tanpa harus didikte oleh siapapun. Bahkan, negara sekalipun! Negara tak boleh turut campur."
Aku lambaikan tangan ke arah pramusaji, memesan lagi secangkir kopi tanpa gula. Pening kepalaku tak kunjung hilang. Bertemu Mona kupikir tadinya akan menjadi hal menyenangkan. Tapi ia justru memulai percakapan mengenai berita hoax yang sedang ramai di masyarakat. Media sosial seperti facebook dan twitter misalnya, riuh orang menyebar berita hoax dan sarat kebencian. Media yang tersertifikasi legal oleh pemerintah dituduh berpihak pada penguasa dan pengusaha. Tanpa pikir panjang jemari-jemari itu ringan saja meng-klik share dan berjalanlah efek domino yang entah bermuara kemana.
Mereka menggunakan agama dan eksklusifitas golongan untuk mengambinghitamkan pihak lain yang minoritas dan tak sepaham. Manusia terpolarisasi untuk memilih salah satu kutub. Sementara mereka yang berada di tengah dan mencoba tak ambil pusing dengan fenomena absurd seperti ini juga kadang menjadi bulan-bulanan dengan stempel munafik.
"Negara seharusnya tak perlu sereaktif itu menanggapi fenomena ini dengan membuat satgas anti hoax dan sejenisnya. Kebenaran itu tak bersifat tunggal," lanjut Mona.
Pramusaji berpenutup kepala itu kembali membawakan pesananku. Sembari menunggu panas kopi menguar, sesekali kupijit dahiku. Sakit ini terus mengganggu. "Kamu menempatkan dirimu dalam posisi serba mungkin dan membuka semua peluang yang hadir untuk dipilih sebagai kebenaran. Otakmu sudah mendapat pengaturan yang fair soal benar dan tidak benar. Tapi orang lain yang tak punya akses pengetahuan secara cukup dan pemahaman yang memadai tentang segala sesuatu akan memilih siapa yang bisa membawa berita itu dengan cara yang paling heroik. Tak peduli lagi benar atau salah. Karena benar menjadi sahih untuk mereka yang punya massa dan pandai mengelolanya."
"Kamu tak menghargai keperbedaan, Sri," tuding Mona. "Negara tidak selalu menjadi pihak yang netral dalam sebuah pertandingan. Ia bisa saja punya kepentingan lain untuk menyelamatkan posisinya selama periode tertentu. Maka, pemerintah tak boleh sampai membuat satgas anti hoax segala. Itu berlebihan dan tak mencerminkan menghargai keperbedaan. Kebenaran itu jamak, Sri. Jamak!"
Aku mendengus. Mona ada benarnya. Negara memang bisa saja tak imbang dalam bersikap. Mona mendelik sengit ke arahku. Aku terima pandangan protesnya padaku. Tanpa negara ikut campur, apa jadinya nasib hoax ini? Seketika aku merasa lapar. Hendak makan apa baiknya ya?
"Tidak semua orang terkarunia hidup dan otaknya sepertimu. Selama urusan perut belum kelar, otak akan lebih abai bicara soal keadilan. Jangan kamu masukkan segala fenomena dalam pembacaan teori filsafatmu. Hidup tak pernah seterang itu. Tak pernah sepolos itu," balasku. "Kau mampu membiarkan kebenaran yang lain tumbuh. Tapi orang lain belum tentu bisa bersikap sepertimu."
Mona menatapku sekilas. Ia tak terima pendapatku. "Negara tetap tak boleh ikut campur soal ini," ulangnya.
Perlahan kuseruput kopiku. Pahit dan asam merasuk melalui lidah dan tertinggal di perut. Rasa nyaman seketika menjalar. "Perbedaan yang tak dikelola baik dan menjelma keresahan akibat mencuatnya gerakan intimidatif membuat kehidupan bernegara menjadi tak nyaman. Tentu negara mesti hadir di sana. Selama negara tidak represif dalam bertindak, itu masih diperbolehkan."
Ganti Mona yang menyeruput minumannya. Tersenyum ia berkata,"Aku tetap tak sependapat denganmu, Sri. Tapi aku tak boleh marah, bukan? Jika marah, maka aku tak terima perbedaan di antara kita."
Aku balas senyuman Sri. Yah, memang begitu idealnya, Mona. Kau berbeda, aku berbeda. Kita memang tak lantas beradu nyawa karena ini. Tapi saat kulemparkan pandanganku ke luar kedai, kiranya kita sama-sama tahu, selain kau dan aku masih ada orang-orang yang rela bersedekah darah untuk tegakkan kebenaran versi mereka. Aku hanya mampu menghela napas dalam-dalam. Lainnya, kepalaku masih tetap sakit dan perutku lapar.
**
(Dimuat juga di http://syahrazade.com/hoax-cerita-fitri-kumalasari/)
Aku lambaikan tangan ke arah pramusaji, memesan lagi secangkir kopi tanpa gula. Pening kepalaku tak kunjung hilang. Bertemu Mona kupikir tadinya akan menjadi hal menyenangkan. Tapi ia justru memulai percakapan mengenai berita hoax yang sedang ramai di masyarakat. Media sosial seperti facebook dan twitter misalnya, riuh orang menyebar berita hoax dan sarat kebencian. Media yang tersertifikasi legal oleh pemerintah dituduh berpihak pada penguasa dan pengusaha. Tanpa pikir panjang jemari-jemari itu ringan saja meng-klik share dan berjalanlah efek domino yang entah bermuara kemana.
Mereka menggunakan agama dan eksklusifitas golongan untuk mengambinghitamkan pihak lain yang minoritas dan tak sepaham. Manusia terpolarisasi untuk memilih salah satu kutub. Sementara mereka yang berada di tengah dan mencoba tak ambil pusing dengan fenomena absurd seperti ini juga kadang menjadi bulan-bulanan dengan stempel munafik.
"Negara seharusnya tak perlu sereaktif itu menanggapi fenomena ini dengan membuat satgas anti hoax dan sejenisnya. Kebenaran itu tak bersifat tunggal," lanjut Mona.
Pramusaji berpenutup kepala itu kembali membawakan pesananku. Sembari menunggu panas kopi menguar, sesekali kupijit dahiku. Sakit ini terus mengganggu. "Kamu menempatkan dirimu dalam posisi serba mungkin dan membuka semua peluang yang hadir untuk dipilih sebagai kebenaran. Otakmu sudah mendapat pengaturan yang fair soal benar dan tidak benar. Tapi orang lain yang tak punya akses pengetahuan secara cukup dan pemahaman yang memadai tentang segala sesuatu akan memilih siapa yang bisa membawa berita itu dengan cara yang paling heroik. Tak peduli lagi benar atau salah. Karena benar menjadi sahih untuk mereka yang punya massa dan pandai mengelolanya."
"Kamu tak menghargai keperbedaan, Sri," tuding Mona. "Negara tidak selalu menjadi pihak yang netral dalam sebuah pertandingan. Ia bisa saja punya kepentingan lain untuk menyelamatkan posisinya selama periode tertentu. Maka, pemerintah tak boleh sampai membuat satgas anti hoax segala. Itu berlebihan dan tak mencerminkan menghargai keperbedaan. Kebenaran itu jamak, Sri. Jamak!"
Aku mendengus. Mona ada benarnya. Negara memang bisa saja tak imbang dalam bersikap. Mona mendelik sengit ke arahku. Aku terima pandangan protesnya padaku. Tanpa negara ikut campur, apa jadinya nasib hoax ini? Seketika aku merasa lapar. Hendak makan apa baiknya ya?
"Tidak semua orang terkarunia hidup dan otaknya sepertimu. Selama urusan perut belum kelar, otak akan lebih abai bicara soal keadilan. Jangan kamu masukkan segala fenomena dalam pembacaan teori filsafatmu. Hidup tak pernah seterang itu. Tak pernah sepolos itu," balasku. "Kau mampu membiarkan kebenaran yang lain tumbuh. Tapi orang lain belum tentu bisa bersikap sepertimu."
Mona menatapku sekilas. Ia tak terima pendapatku. "Negara tetap tak boleh ikut campur soal ini," ulangnya.
Perlahan kuseruput kopiku. Pahit dan asam merasuk melalui lidah dan tertinggal di perut. Rasa nyaman seketika menjalar. "Perbedaan yang tak dikelola baik dan menjelma keresahan akibat mencuatnya gerakan intimidatif membuat kehidupan bernegara menjadi tak nyaman. Tentu negara mesti hadir di sana. Selama negara tidak represif dalam bertindak, itu masih diperbolehkan."
Ganti Mona yang menyeruput minumannya. Tersenyum ia berkata,"Aku tetap tak sependapat denganmu, Sri. Tapi aku tak boleh marah, bukan? Jika marah, maka aku tak terima perbedaan di antara kita."
Aku balas senyuman Sri. Yah, memang begitu idealnya, Mona. Kau berbeda, aku berbeda. Kita memang tak lantas beradu nyawa karena ini. Tapi saat kulemparkan pandanganku ke luar kedai, kiranya kita sama-sama tahu, selain kau dan aku masih ada orang-orang yang rela bersedekah darah untuk tegakkan kebenaran versi mereka. Aku hanya mampu menghela napas dalam-dalam. Lainnya, kepalaku masih tetap sakit dan perutku lapar.
**
(Dimuat juga di http://syahrazade.com/hoax-cerita-fitri-kumalasari/)
Subscribe to:
Posts (Atom)