Joni berkali-kali patah hati. Ia diselingkuhi oleh perempuan yang mengajarkannya bagaimana tertawa. Saat diputuskan, Joni patah sepatah-patahnya. Tapi ia emoh intropeksi dan mengejar sang pujaan hati.
Meski masih berdarah-darah menyembuhkan luka, Joni maju terus menemukan cinta yang lain. Ibarat kehausan dan babak belur di tengah Sahara, cinta baru harus ditemukan segera. Sebelum ia memohon dan merajuk masa lalunya agar bersama bersilang jemari menghadapi masa depan.
Sementara itu,Tati belum genap lima tahun lulus SMA. Kuliah ia tak jenak, maka bekerja dulu sebagai kasir di warung Pak Teko. Kalau keinginan kuliah sudah terbit, Tati tinggal ikut kelas karyawan saja tiap malam Jumat. Alih-alih kuliah dan dapat gelar sarjana, Tati kemimpi ingin segera menikah.
Ia baru putus dari pacarnya yang mirip artis Tiongkok, entah yang mana. Ulu hati Tati sering gemas karena Mas Pacar belum juga ajak ia membangun rumah tangga. Padahal sudah punya kisah asmara kurang lebih satu tahun delapan bulan. Tati ingin memulai karir sebagai seorang istri dan ibu. Detailnya bagaimana, ya nanti dulu. Toh, setelah menikah ia yakin surga semakin dekat.
Hingga pada suatu waktu yang sedikit ajaib: gerhana matahari, Joni dan Tati bertemu juga. Saat itu Joni hendak membasuh luka hatinya di pinggir sungai Dolan, sedangkan Tati sedang semedi di bawah pohon jamblang dekat tempat Joni mau mandi. Di persimpangan momen itu, Cupid lewat dan nggak sengaja melepaskan anak panah cintanya karena terantuk batu akibat ngantuk. Joni dan Tati sama-sama jatuh cinta dengan frekuensi berbeda. Perbedaan ini menciptakan tujuan bahwa keduanya harus segera menilkah. Setelahnya biar nanti dipikirkan bersama. Yang utama keduanya tak lagi sendiri menghadapi hari esok.
Singkat cerita, pesta pernikahan sederhana berlangsung juga. Biaya jual motor dan gadai rumah Joni lakukan tanpa pikir panjang. Tati mesem-mesem saja, yang penting mimpinya akan segera terkabul. Beberapa waktu setelah pesta usai dan suami-istri itu berbagi kelambu, Joni tetiba didera kebingungan dan tak habis pikir. Perasaannya kelu dan kecut.
"Menikah rasanya begini doang, ya," ujar Joni sambil melamun di pos ronda RT 11.
Ada Asrul yang menjadi teman nongkrong Joni malam hujan angin itu. Asrul yang lagi ngunyah kacang rebus cuma bisa menatap bengong Joni. Ia tak paham ocehan Joni. "Emang lu berharap nikah tuh kayak gimana?"
Joni makin melamun. Ia masih teringat mantan pacarnya yang mengajarkan bagaimana tertawa. Tawa yang remeh dan renyah. Tawa yang Joni rindukan. "Gua kepingin krupuk," tutup Joni dengan pandangan menerawang hingga tembus ke langit ketujuh.
(Jakarta, 19 Maret 2017)