Wednesday, June 21, 2017

Ke Pyongyang


Lengang.

Kelabu.

Raut-raut wajah tak semarak.

Seragam.

Demikian kesan pertamaku menjejakkan diri di Pyongyang, Korea Utara. Wajah-wajah itu memandang awas pada keasingan; warna-warni dan orang lain yang memiliki ciri berbeda dengan mereka. Apalagi ang asing jelas-jelas tak ikut satu pun kegiatan pagi di Pyongyang. 


“Kubayangkan ini lebih keren dari Virtual Reality (VR). Tanpa campur tangan teknologi visual teranyar, aku hanya akan memilih tempat dan nuansa yang kukehendaki. Membayangkan apa yang kuinginkan terjadi. Sebab ini adalah tamasya imajiner pertamaku. Aku ingin sekehendak hati terasa sempurna.”


Ibarat sebuah sekolah luar biasa besar dan bergengsi, di lapangan depan gedung milik pemerintah itu para perempuan sibuk menari. Dengan pakaian berwarna merah muda dan menggenggam bendera merah di tangan kiri dan kanan, perempuan-perempuan ini melenggokkan bendera dalam alunan keseragaman yang absurd. Di Indonesia tingkah mereka bisa diartikan sedang senam kebugaran jasmani. Tetapi bagi Rakyat Republik Demokratik Korea (nama resmi Korea Utara), gerakan ini untuk memompa semangat bekerja warga.

Di sisi sebelah kananku, seberang para perempuan menari dengan topi bulu merahnya, para orangtua mengantri bersama anak-anak mereka. Menurut berita, tiap Senin pagi anak-anak minimal usia 6 bulan wajib dititipkan kepada negara dalam pengasuhan sebuah lembaga. Anak-anak ini akan diasuh selama 6 hari. Mereka baru akan dikembalikan kepada orang tua pada hari Minggu. Tujuan penitipan anak ini agar orang tua bisa fokus bekerja saja tanpa perlu risau menjaga dan mendidik anak. Toh, biaya kesehatan, pendidikan dan makan anak menjadi tanggung jawab negara. Anak-anak yatim piatu juga dipelihara negara.

Seulas senyum tersungging begitu saja di bibirku. Kupikir sebelumnya tak akan ada tawa renyah yang keluar dari para keluarga kecil ini. Raut wajah mereka dalam bayangku tetap akan datar saja karena mereka hidup dalam kekakuan komunisme. Tapi ternyata tak begitu-begitu amat. Meski warna pakaian yang mereka kenakan tak semarak, tak ramai kendaraan mentereng di jalan raya, kebanyakan warga bersepeda, dan jauh dari kompetisisi pamer gawai terbaru, Korea Utara dan isinya hidup dalam keteraturan dan harmoni. Mereka menjalankan hidup yang cukup dan sederhana.

Pyongyang pagi di bulan April menjelang musim panas. Udara yang kuhirup begitu segar. Ini ibukota dengan kadar polutan rendah. Tak banyak kendaraan lalu lalang, sementara pepohonan menuju berdaun lagi. Korea Utara merupakan negara komunis tertutup yang dipimpin tiga generasi berturut-turut; Kim Jong Il, Kim Il Sung, dan kini Kim Jong Un. 


“Berbekal buku Jejak Mata Pyongyang-nya Seno Gumira Ajidarma serta dokumenter terbaru dari situs berita RT, “The Happiest People on Earth”, menuntunku memutuskan melanglang buana ke negeri komunis raya, Republik Rakyat Demokratik Korea. Tujuanku ke Pyongyang.”


Kuputuskan berjalan kaki sendiri mengitari Pyongyang. Melihat-lihat isi kota yang tetap tak semarak dan gaduh. Alih-alih warga sipil yang hilir mudik, yang bertebaran justru pria berseragam militer. Refleks napasku berhembus dalam, hampir mendengus. Wajah-wajah itu - laki dan perempuan - tak begitu ramah. Seulas senyum sulit mereka derma untuk orang asing. 

Dalam situs Lonely Planet, Pyongyang berarti tanah datar. Lantas apakah tanah datar merasuk ke dalam budaya manusianya di sini? Mungkin saja. Kota metropolitan Pyongyang tersusun paska perang Korea. Setiap kunjungan ke Korea Utara, wisatawan hanya difokuskan pada kehidupan ibukota. Ke wilayah lain sulit, hampir musykil. Pemerintahnya pun tak sudi membiarkan orang asing berkelana sendiri tanpa pengawalan di Korea Utara. Mereka akan menuntunmu berkunjung ke monumen-monumen dan menara seperti Tower of the Juche Idea, Kumsusan Memorial Palace of the Sun, Moran Hill, dan Monument to the Foundation of the Workers' Party.


“Mengunjungi suatu kota dengan mengenal sedikit sejarahnya kupercayai memberikan warna. Monumen-monumen pun menunjukkan karakter bangsa, membantuku melanglang buana. Semua kubawa ke dunia imajiner.”


Tower of the Juche Idea dibangun sebagai peringatan ulang tahun ke-70 Kim Jung Il. Tinggi bangunan dari granit ini 170 meter. Tower ini menawarkan pemandangan Pyongyang. Lainnya, aku mengunjungi sejenak taman kota di Pyongyang. Arena rekreasi warga diwadahi negara dengan membuat Moran Hill. Bagi warga, Moran Hill adalah oase kecil tanpa harus mendengar terus menerus propaganda politik. Senin siang itu, Moran Hill sepi. Hampir tak ada warga leyeh-leyeh di taman kota.  

Hari menjelang siang, kakiku mulai terasa lelah. Duduk sekitar satu jam di Moran Hill rasanya tak apa. Aku menuju bawah pohon dan meluruskan kedua kaki. Kedua mataku hilir mudik mengamati sepeda-sepeda warga yang lalu lalang tak jauh dari tempatku. Betapa mereka tak dikejar waktu dan diburu materi. 

Korea Utara di bawah kendali komunis tak mencetak mata uang untuk warganya. Semuanya dibagi rata. Hasrat konsumerisme seolah mati di sini. Tak tampak kaya miskin. Semua warga bekerja sesuai keahlian dan ketrampilan. Pengemis pun tak ada di sini. Aku takjub juga. Bagaimana pandangan mereka mengenai dunia di luar Korea Utara? Pernahkah mereka mendengar Indonesia? Adakah imajinasi mereka melanglang buana sepertiku saat ini? Membuat lompatan tak linear mengenai realitas dan imajinasi?  

Semilir angin berhembus membuatku buncah juga. Sinar matahari tak begitu terik di sini. Aku hendak menuju Kumsusan Memorial Palace of the Sun. Tempat ini merupakan rumah mendiang Kim Il Sung semasa hidup. Tak ada yang spesial dari bentuk bangunan rumah ini. Hanya karena Kim Jong Il dan Kim Il Sung punya sejarah di sini, maka ia menjadi tempat suci. Tiap peringatan ulang tahun penguasa Korea Utara kedua ini menjadi hari libur nasional. Tiap lelaki wajib memakai dasi dan jas, sementara para perempuan memakai pakaian tradisional. Mereka berbondong-bondong mengunjungi tempat ini untuk menghormati Kim Il Sung. 

Seno Gumira Ajidarma yang pernah mengunjungi Korea Utara pada 2002 juga menyinggung rumah reyot ini. Sama sepertiku, Seno terheran-heran sebegitu gila rakyat Korea Utara memuja pemimpi mereka. Agama bukan sesuatu yang penting di sana. Tak beragama tak masalah asal kau tidak menghianati negara dan pemimpinmu. Kim Jong Un yang kini memimpin Korea Utara juga ikut terkena kultus suci rakyatnya. Ia dipuja dan dijunjung wargannya. Keagungannya bahkan mungkin mengalahkan citra Raja-raja Jawa yang sering dianggap utusan Tuhan. 

Tujuan terakhirku adalah Monument to the Foundation of the Workers’ Party. Tiga bangunan - palu, sabit, dan pena - menjadi ikon yang dapat selalu ditemui di Korea Selatan. Semua sampul buku di sana dicap dengan simbol gambar ini. Lagi-lagi aku hampir mendengus. Meski udara di sini segar, tapi berbau ideologi kental dan memuakkan. Semua bangunan dan selebrasi negeri ini adalah untuk glorifikasi penguasa. Indoktrinasi semenjak dalam kandungan menjadi makanan sehari-hari warganya.

Aku segera berbalik arah entah kemana. Aku hanya ingin menuju tepi danau dan menghirup udara lebih segar sambil melihat air. Aku ingin mencari damai dan melihat matahari tenggelam di bumi Pyongyang. Menyelami kehidupan komunis yang begitu aneh bagiku. Apakah mereka yang tinggal di sini temukan bahagia? Tak penasarankah mereka mencecap rasa kebebasan yang memang tak selalu manis, tapi berharga? 


“Apa yang membatasimu? Begitu tanyaku pada diri sendiri. Aku ingin menjelajah dunia kemana pun yang kusuka. Keterbatasanku tak akan menghalangiku merengkuh dunia. Imajinasiku menantang untuk dijamah dalam ruang yang tak kasat mata, melainkan mencumbui nuansa.”


Di Pyongyang aku menemukan lengang dan damai. Ruang untukku berpikir jenak dan menikmati hiperrealitas terkuak sedikit. Aku cukupkan tamasyaku saat ini. Meski sekejap, tapi belum ketemukan Aha! yang kucari. Sudut dunia lain, tunggu kisahku lagi…


(21 Juni 2017)