Wednesday, June 21, 2017

Ke Pyongyang


Lengang.

Kelabu.

Raut-raut wajah tak semarak.

Seragam.

Demikian kesan pertamaku menjejakkan diri di Pyongyang, Korea Utara. Wajah-wajah itu memandang awas pada keasingan; warna-warni dan orang lain yang memiliki ciri berbeda dengan mereka. Apalagi ang asing jelas-jelas tak ikut satu pun kegiatan pagi di Pyongyang. 


“Kubayangkan ini lebih keren dari Virtual Reality (VR). Tanpa campur tangan teknologi visual teranyar, aku hanya akan memilih tempat dan nuansa yang kukehendaki. Membayangkan apa yang kuinginkan terjadi. Sebab ini adalah tamasya imajiner pertamaku. Aku ingin sekehendak hati terasa sempurna.”


Ibarat sebuah sekolah luar biasa besar dan bergengsi, di lapangan depan gedung milik pemerintah itu para perempuan sibuk menari. Dengan pakaian berwarna merah muda dan menggenggam bendera merah di tangan kiri dan kanan, perempuan-perempuan ini melenggokkan bendera dalam alunan keseragaman yang absurd. Di Indonesia tingkah mereka bisa diartikan sedang senam kebugaran jasmani. Tetapi bagi Rakyat Republik Demokratik Korea (nama resmi Korea Utara), gerakan ini untuk memompa semangat bekerja warga.

Di sisi sebelah kananku, seberang para perempuan menari dengan topi bulu merahnya, para orangtua mengantri bersama anak-anak mereka. Menurut berita, tiap Senin pagi anak-anak minimal usia 6 bulan wajib dititipkan kepada negara dalam pengasuhan sebuah lembaga. Anak-anak ini akan diasuh selama 6 hari. Mereka baru akan dikembalikan kepada orang tua pada hari Minggu. Tujuan penitipan anak ini agar orang tua bisa fokus bekerja saja tanpa perlu risau menjaga dan mendidik anak. Toh, biaya kesehatan, pendidikan dan makan anak menjadi tanggung jawab negara. Anak-anak yatim piatu juga dipelihara negara.

Seulas senyum tersungging begitu saja di bibirku. Kupikir sebelumnya tak akan ada tawa renyah yang keluar dari para keluarga kecil ini. Raut wajah mereka dalam bayangku tetap akan datar saja karena mereka hidup dalam kekakuan komunisme. Tapi ternyata tak begitu-begitu amat. Meski warna pakaian yang mereka kenakan tak semarak, tak ramai kendaraan mentereng di jalan raya, kebanyakan warga bersepeda, dan jauh dari kompetisisi pamer gawai terbaru, Korea Utara dan isinya hidup dalam keteraturan dan harmoni. Mereka menjalankan hidup yang cukup dan sederhana.

Pyongyang pagi di bulan April menjelang musim panas. Udara yang kuhirup begitu segar. Ini ibukota dengan kadar polutan rendah. Tak banyak kendaraan lalu lalang, sementara pepohonan menuju berdaun lagi. Korea Utara merupakan negara komunis tertutup yang dipimpin tiga generasi berturut-turut; Kim Jong Il, Kim Il Sung, dan kini Kim Jong Un. 


“Berbekal buku Jejak Mata Pyongyang-nya Seno Gumira Ajidarma serta dokumenter terbaru dari situs berita RT, “The Happiest People on Earth”, menuntunku memutuskan melanglang buana ke negeri komunis raya, Republik Rakyat Demokratik Korea. Tujuanku ke Pyongyang.”


Kuputuskan berjalan kaki sendiri mengitari Pyongyang. Melihat-lihat isi kota yang tetap tak semarak dan gaduh. Alih-alih warga sipil yang hilir mudik, yang bertebaran justru pria berseragam militer. Refleks napasku berhembus dalam, hampir mendengus. Wajah-wajah itu - laki dan perempuan - tak begitu ramah. Seulas senyum sulit mereka derma untuk orang asing. 

Dalam situs Lonely Planet, Pyongyang berarti tanah datar. Lantas apakah tanah datar merasuk ke dalam budaya manusianya di sini? Mungkin saja. Kota metropolitan Pyongyang tersusun paska perang Korea. Setiap kunjungan ke Korea Utara, wisatawan hanya difokuskan pada kehidupan ibukota. Ke wilayah lain sulit, hampir musykil. Pemerintahnya pun tak sudi membiarkan orang asing berkelana sendiri tanpa pengawalan di Korea Utara. Mereka akan menuntunmu berkunjung ke monumen-monumen dan menara seperti Tower of the Juche Idea, Kumsusan Memorial Palace of the Sun, Moran Hill, dan Monument to the Foundation of the Workers' Party.


“Mengunjungi suatu kota dengan mengenal sedikit sejarahnya kupercayai memberikan warna. Monumen-monumen pun menunjukkan karakter bangsa, membantuku melanglang buana. Semua kubawa ke dunia imajiner.”


Tower of the Juche Idea dibangun sebagai peringatan ulang tahun ke-70 Kim Jung Il. Tinggi bangunan dari granit ini 170 meter. Tower ini menawarkan pemandangan Pyongyang. Lainnya, aku mengunjungi sejenak taman kota di Pyongyang. Arena rekreasi warga diwadahi negara dengan membuat Moran Hill. Bagi warga, Moran Hill adalah oase kecil tanpa harus mendengar terus menerus propaganda politik. Senin siang itu, Moran Hill sepi. Hampir tak ada warga leyeh-leyeh di taman kota.  

Hari menjelang siang, kakiku mulai terasa lelah. Duduk sekitar satu jam di Moran Hill rasanya tak apa. Aku menuju bawah pohon dan meluruskan kedua kaki. Kedua mataku hilir mudik mengamati sepeda-sepeda warga yang lalu lalang tak jauh dari tempatku. Betapa mereka tak dikejar waktu dan diburu materi. 

Korea Utara di bawah kendali komunis tak mencetak mata uang untuk warganya. Semuanya dibagi rata. Hasrat konsumerisme seolah mati di sini. Tak tampak kaya miskin. Semua warga bekerja sesuai keahlian dan ketrampilan. Pengemis pun tak ada di sini. Aku takjub juga. Bagaimana pandangan mereka mengenai dunia di luar Korea Utara? Pernahkah mereka mendengar Indonesia? Adakah imajinasi mereka melanglang buana sepertiku saat ini? Membuat lompatan tak linear mengenai realitas dan imajinasi?  

Semilir angin berhembus membuatku buncah juga. Sinar matahari tak begitu terik di sini. Aku hendak menuju Kumsusan Memorial Palace of the Sun. Tempat ini merupakan rumah mendiang Kim Il Sung semasa hidup. Tak ada yang spesial dari bentuk bangunan rumah ini. Hanya karena Kim Jong Il dan Kim Il Sung punya sejarah di sini, maka ia menjadi tempat suci. Tiap peringatan ulang tahun penguasa Korea Utara kedua ini menjadi hari libur nasional. Tiap lelaki wajib memakai dasi dan jas, sementara para perempuan memakai pakaian tradisional. Mereka berbondong-bondong mengunjungi tempat ini untuk menghormati Kim Il Sung. 

Seno Gumira Ajidarma yang pernah mengunjungi Korea Utara pada 2002 juga menyinggung rumah reyot ini. Sama sepertiku, Seno terheran-heran sebegitu gila rakyat Korea Utara memuja pemimpi mereka. Agama bukan sesuatu yang penting di sana. Tak beragama tak masalah asal kau tidak menghianati negara dan pemimpinmu. Kim Jong Un yang kini memimpin Korea Utara juga ikut terkena kultus suci rakyatnya. Ia dipuja dan dijunjung wargannya. Keagungannya bahkan mungkin mengalahkan citra Raja-raja Jawa yang sering dianggap utusan Tuhan. 

Tujuan terakhirku adalah Monument to the Foundation of the Workers’ Party. Tiga bangunan - palu, sabit, dan pena - menjadi ikon yang dapat selalu ditemui di Korea Selatan. Semua sampul buku di sana dicap dengan simbol gambar ini. Lagi-lagi aku hampir mendengus. Meski udara di sini segar, tapi berbau ideologi kental dan memuakkan. Semua bangunan dan selebrasi negeri ini adalah untuk glorifikasi penguasa. Indoktrinasi semenjak dalam kandungan menjadi makanan sehari-hari warganya.

Aku segera berbalik arah entah kemana. Aku hanya ingin menuju tepi danau dan menghirup udara lebih segar sambil melihat air. Aku ingin mencari damai dan melihat matahari tenggelam di bumi Pyongyang. Menyelami kehidupan komunis yang begitu aneh bagiku. Apakah mereka yang tinggal di sini temukan bahagia? Tak penasarankah mereka mencecap rasa kebebasan yang memang tak selalu manis, tapi berharga? 


“Apa yang membatasimu? Begitu tanyaku pada diri sendiri. Aku ingin menjelajah dunia kemana pun yang kusuka. Keterbatasanku tak akan menghalangiku merengkuh dunia. Imajinasiku menantang untuk dijamah dalam ruang yang tak kasat mata, melainkan mencumbui nuansa.”


Di Pyongyang aku menemukan lengang dan damai. Ruang untukku berpikir jenak dan menikmati hiperrealitas terkuak sedikit. Aku cukupkan tamasyaku saat ini. Meski sekejap, tapi belum ketemukan Aha! yang kucari. Sudut dunia lain, tunggu kisahku lagi…


(21 Juni 2017)

Monday, March 20, 2017

Menikah

Joni berkali-kali patah hati. Ia diselingkuhi oleh perempuan yang mengajarkannya bagaimana tertawa. Saat diputuskan, Joni patah sepatah-patahnya. Tapi ia emoh intropeksi dan mengejar sang pujaan hati.

Meski masih berdarah-darah menyembuhkan luka, Joni maju terus menemukan cinta yang lain. Ibarat kehausan dan babak belur di tengah Sahara, cinta baru harus ditemukan segera. Sebelum ia memohon dan merajuk masa lalunya agar bersama bersilang jemari menghadapi masa depan.

Sementara itu,Tati belum genap lima tahun lulus SMA. Kuliah ia tak jenak, maka bekerja dulu sebagai kasir di warung Pak Teko. Kalau keinginan kuliah sudah terbit, Tati tinggal ikut kelas karyawan saja tiap malam Jumat. Alih-alih kuliah dan dapat gelar sarjana, Tati kemimpi ingin segera menikah.

Ia baru putus dari pacarnya yang mirip artis Tiongkok, entah yang mana. Ulu hati Tati sering gemas karena Mas Pacar belum juga ajak ia membangun rumah tangga. Padahal sudah punya kisah asmara kurang lebih satu tahun delapan bulan. Tati ingin memulai karir sebagai seorang istri dan ibu. Detailnya bagaimana, ya nanti dulu. Toh, setelah menikah ia yakin surga semakin dekat.

Hingga pada suatu waktu yang sedikit ajaib: gerhana matahari, Joni dan Tati bertemu juga. Saat itu Joni hendak membasuh luka hatinya di pinggir sungai Dolan, sedangkan Tati sedang semedi di bawah pohon jamblang dekat tempat Joni mau mandi. Di persimpangan momen itu, Cupid lewat dan nggak sengaja melepaskan anak panah cintanya karena terantuk batu akibat ngantuk. Joni dan Tati sama-sama jatuh cinta dengan frekuensi berbeda. Perbedaan ini menciptakan tujuan bahwa keduanya harus segera menilkah. Setelahnya biar nanti dipikirkan bersama. Yang utama keduanya tak lagi sendiri menghadapi hari esok.

Singkat cerita, pesta pernikahan sederhana berlangsung juga. Biaya jual motor dan gadai rumah Joni lakukan tanpa pikir panjang. Tati mesem-mesem saja, yang penting mimpinya akan segera terkabul. Beberapa waktu setelah pesta usai dan suami-istri itu berbagi kelambu, Joni tetiba didera kebingungan dan tak habis pikir. Perasaannya kelu dan kecut.

"Menikah rasanya begini doang, ya," ujar Joni sambil melamun di pos ronda RT 11.

Ada Asrul yang menjadi teman nongkrong Joni malam hujan angin itu. Asrul yang lagi ngunyah kacang rebus cuma bisa menatap bengong Joni. Ia tak paham ocehan Joni. "Emang lu berharap nikah tuh kayak gimana?"

Joni makin melamun. Ia masih teringat mantan pacarnya yang mengajarkan bagaimana tertawa. Tawa yang remeh dan renyah. Tawa yang Joni rindukan. "Gua kepingin krupuk," tutup Joni dengan pandangan menerawang hingga tembus ke langit ketujuh.


(Jakarta, 19 Maret 2017)

Saturday, February 11, 2017

Tanah Harapan

Aku bermimpi ke tanah harapan; Mekah.

Bersama tiga orang kawan; satu adalah kristiani, dua berhijab. Salah seorang di antara dua telah menjadi ibu. Kami datang ke tempat yang belum pernah kami impikan akan kunjungi untuk laksanakan haji. Datang pun kami satu persatu. Yang kristiani dan si lajang lebih dulu berada di sini. Menyusul kemudian si ibu, terakhir aku. Tujuan kami sama; observasi lapangan untuk kepentingan berita. Kami adalah juru berita, wartawan media.

"Kamu hari ini ke Mekah. Laporkan mengenai situasi di sana," begitu kata bosku, sesaat sebelum aku tiba di negeri gurun. Kepalaku berdenyut, pikiranku berlombatan menghindari fokus. Aku masih jauh dari paham mengenai tugas apa yang harus kukerjakan di tanah harapan. Toh, sudah ada tiga kawan perempuan yang lebih dulu berada di sana. Tapi tugas ini tetap aku jalani.

Dalam kilatan waktu yang tak terukur, aku sampai juga di negeri yang diimpikan hampir seluruh warga dunia dapat kunjungi. Bagi mereka, Mekah adalah oase di tengah wilayah berkontur gurun. Ada imaji yang terbangun. Di sana ada surga dan wajah Ilahi. Mekah mengandung nilai spiritual yang dogmatis sekaligus eksotis. Meski demikian, aku bukan salah seorang dari mereka yang memimpikan diri berkunjung kesana. Selain karena kondisi Mekah dengan panas menyengat, hatiku juga belum tersengat imaji-imaji tentangnya.

Aku hanya menyadari diri telah sampai di Mekah. Duduk seorang diri di sebuah bangku panjang dalam ruangan supra luas dengan pendingin ruangan yang efektif menjauhkan orang-orang yang sedang berlalu lalang di depanku dari hawa panas. Seperti bandara? Apakah aku sudah benar-benar tiba di dalam pusaran aktivitas ibadah dekat Ka'bah? Atau aku masih menunggu izin masuk bagiku yang tak berhijab, bercelana jeans, kaos lengan pendek, dan sebuah ransel oleh otoritas berwenang? Aku tak tahu pasti.

Penantianku menunggu petunjuk harus melakukan apa di sini juga belum berakhir. Aku menunggu tugas yang dikirimkan oleh bosku melalui pesan pendek dari telepon selular, tapi tak kunjung datang. Berselang waktu, kawanku bertiga datang menyambutku. Tanpa tukar kata, kami segera beranjak entah kemana.

Aku hanya memandangi berbanyak orang di tempat enigmatik ini dengan beragam tampilan; sebagian lelaki berpakaian gamis dengan harum parfum semerbak. Sekali dua kali orang berjalan gagah dengan jas. Ada juga yang kenakan kacamata hitam sambil menenteng handphone paling canggih. Para perempuan memang lebih banyak menutup diri dengan penutup kepala lebih lebar menjuntai hingga lutut. Petugas keamanan juga melakukan pengawasan dengan bergaya; berbadan besar' berseragam hitam dengan senjata di sabuk pinggang, dan berkaca mata hitam. Seram sekali!

Selain itu lantai bangunan bukan pasir, melainkan ubin keramik ukuran besar. Begitu berkilat dan bersih hingga kita bisa melihat pantulan diri di antara motif keramik. Kiri-kanan adalah deretan toko barang-barang bermerek dunia. Ada tas, sepatu, pakaian, hingga parfum yang dipajang di muka toko. Tempat ini seperti sebuah pusat perbelanjaan megah dan mewah, alih-alih suaka untuk semakin dekat dengan Tuhan.

"Ini sungguh di Mekah?" Tanyaku kepada para kawanku. Mereka mengangguk. Raut wajah cerah menunjukkan mereka telah beradaptasi dengan semua kejanggalan imaji tentang Mekah yang suci. Aku masih tak percaya dengan kenyataan baru ini. Aku sungguh tak menyangka.

Kami menyisir pinggiran area bangunan selayaknya agen keamanan. Pusat bangunan yang disebut Ka'bah adalah sebuah tiang tinggi terpancang di tengah dan kokoh. Ka'bah dikelilingi oleh berbanyak orang - laki dan perempuan - yang berdesakan mengelilinginya dengan syahdu dan khidmat. Sungguh inilah Ka'bah? Beginikah rupanya yang didambakan hingga ke liang lahat bagi mereka yang kemimpi pergi haji? Lengkap dengan semua etalase di sepanjang bangunannya?

Aku terhenyak di sisi selatan Ka'bah. Kawan-kawanku terus berjalan ke depan. Takjub dan keherananku masih menggelayut. Sejenak aku sadar harus menyusul kawan-kawanku agar tak sesat di tempat yang masih janggal bagiku. Tapi kulihat ketiga kawanku berhenti dihadang oleh seorang pria tua berkacamata dan duduk di kursi roda. Aku segera menyusul mereka.

Rambut pria itu telah putih seluruhnya. Ia tersenyum kepada kami. Ia berkemeja putih dan mengenakan celana hitam, alih-alih kain putih yang biasa digunakan para peserta haji. Ia membagikan selembar kertas kepada kami satu persatu. "Apa dan dimana batas dunia bagi manusia?"

Dengan kedepannya mata dan senyum yang masih terkembang, ia ajukan lagi pertanyaan kepada kami,"Apa itu tanah harapan?"

Kupandangi lekat-lekat sekitarku. Aneka toko, ruangan berpendingin udara, manusia-manusia urban sekaligus yang mendamba Tuhan bersatu disini. Di depan Ka'bah, apa dan dimana batas dunia bagi manusia

(Jakarta, 11 Februari 2017)

Thursday, February 2, 2017

TUKAR TAMBAH

Wajah Badrun sumringah. Senyum selebar satu meter terkembang diwajah pas-pasan juragan minyak ini. Meski sudah setengah baya, Badrun masih merasa perkasa. Di hari yang cerah ini Badrun sudah sedia di rumah Pak Amir.

Pak Amir adalah penadah barang. Barang apapun yang bernilai jual ia tampung. Bagi yang ingin jual rumah, ia tampung untuk kemudian jual lagi ke pihak lain dengan harga yang mendatangkan untung. Kadang ia juga menerima tukar tambah langsung.

Badrun meski sudah kaya raya masih mau tukar tambah barang ke Pak Amir. Barang yang ia miliki ini sudah lama dan tak lagi indah, Badrun sudah tak senang. Ia mau ganti yang baru. Siapa tahu Pak Amir punya barang baru yang ia inginkan.

Menempuh perjalanan melewati 10 kecamatan, Badrun sampai juga di rumah Pak Amir. Dengan langkah gagah, Pria berwajah bulat dan perut buncit ini memanggil Pak Amir. Tak berapa lama si empunya rumah keluar, masih sarungan.

"Pak Amir, saya mau menawarkan barang," kata Badrun tanpa tedeng aling-aling. Pak Amir dengan masih setengah sadar menyambut kedatangan Badrun dengan ngucek mata dan diam beberapa jenak. Tak lama Badrun disuruh masuk dan duduk. Dua cangkir kopi pun dibuat sendiri oleh Pak Amir untuk dirinya dan Badrun.

"Kok bukan istrinya yang buat, Pak?" Tanya Badrun begitu cangkir kopi untuknya disuguhkan Pak Amir.

"Gini-gini gua masih sanggup nyeduh kopi sendiri. Sepele itu," jawab Pak Amir. "Mau apa lo kemari, Drun?"

Suguhan secangkir kopi Pak Amir dibalas senyum sumringah lagi oleh Badrun. "Saya mau tukar tambah, Pak. Barangnya sudah lama dan mulai soak. Mau ganti yang kinclong dan mulus."

Pak Amir masih bingung dengan jawaban Badrun. "Usianya sudah 53 tahun. Bodinya masih lengkap, Pak. Cuma memang karena barang lama jadi memuai. Sudah banyak yang aus. Tapi suara makin nyaring."

Itu mobil kayaknya, tebak Pak Amir dalam hati. Ia hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita Badrun. Kalau mobil tua dibenerin bisa dijual lagi ke para kolektor mobil lawas. "Terus lo mau ganti baru sama apa, Drun?"

Kedua alis mata Badrun mendadak naik. Pupil kedua matanya membesar. "Yang seksi, masih baru, belum lecet, dan mulus, Pak," Badrun menjawab cepat.

"Merek apaan?" Tanya Pak Amir.

"Jepang."

Pak Amir masih mengangguk-angguk. "Coba sini gua lihat dulu barangnya."

Badrun langsung bangkit dan keluar menuju halaman. Pak Amir sempat tersentak, tapi tak ambil peduli. Mungkin Badrun mau ambil foto atau lainnya. Pak Amir memilih tetap di dalam dan meniup sayup-sayup kopinya.

Tak berapa lama Badrun kembali dengan seorang perempuan paruh baya bertubuh besar dengan raut wajah cemberut dan siap kelahi. "Ini, Pak. Saya mau tukar tambah sama yang baru," kata Badrun sambil menyodorkan perempuan itu ke arah Pak Amir.

Kopi yang baru diserut Pak Amir langsung tersembur ke arah Badrun. "Bangke! Apa maksud lo, Drun?"

Ternyata barang yang mau Badrun tukar tambahkan kepada Pak Amir tak lain adalah istrinya sendiri. Badrun merasa sudah tak memerlukan istrinya yang sudah tak menarik ini lagi. Bagi si raja minyak ini kalau bisa tukar dengan yang baru buat apa pertahankan yang lama.

Mendengar penjelasan Badrun, Pak Amir langsung merah air mukanya. Disiramnya muka Badrun dengan air kopi hangat-hangat kuku. "Dasar badak! Lo anggap perempuan tuh barang? Seenaknya mau lo tukar tambah. Lo pikir bini lo tamiya?!"


(2 Januari 2017)

Saturday, January 28, 2017

Sendok

Amir dan Sutikno anehnya adalah kawan karib. Disebut aneh karena keduanya memiliki latar belakang absurd. Amir sedang gadrung ilmu agama. Sedangkan Sutikno kesengsem wisata kuliner. Hobinya makan, perutnya suka bunyi kruyuk-kruyuk. Adalah Amir yang seringnya menjadi partner Sutikno makan. Tapi...


Bakso

Dua mangkuk bakso sudah tersaji di depan Amir dan Sutikno. Saus, kecap, dan sambal disediakan si penjual bakso yang sudah punya warung menetap sendiri. Sendok dan grapu pun tak lupa pula diberikan kepada mereka.

Sutikno sudah bersiap menyantap bakso dengan sendok dan garpu. Ia hendak menusuk bakso dengan garpu ditangan kiri dan membaginya jadi dua dengan sendok ditangan kanan. "Tunggu!" Amir tiba-tiba berseru.

Mulut dan kedua tangan Sutikno sudah dalam posisi bersedia. "Jangan pakai garpu," kata Amir sembari mengambil garpu yang sudah digenggam Sutikno. Yang garpunya direnggut hanya bisa bengong, bingung. Sementara Amir tak ambil pusing dengan raut wajah Sutikno. Amir sendiri juga tak menggunakan garpu. Sendok tok! Sekejap mereka kembali makan bakso. Mungkin biar abang bakso nggak repot mesti cuci garpu, begitu pikir Sutikno. Ia tersenyum dan melahap bakso atom bulat-bulat tanpa perlu dibagi dua dan hanya pakai sendok.


Mie Ayam

Kali lain, Amir dan Sutikno sedang berjalan santai sambil nyanyi lagu poco-poco. Saat di pengkolan jalan, ada gerobak mie ayam. Sementara abang penjualnya sedang tidur di bawah pohon asem. Perut Sutikno langsung kruyuk-kruyuk, matanya berbinar cerah. Tanpa komando ia sudah berlari menghampiri gerobak mie ayam. "Bang, mie ayam dua ya. Makan disini," teriak Sutikno. Amir kaget sesaat, tapi langsung mengejar Sutikno. Sementara abang penjual mie ayam bangun dari mimpi indah karena kaget diteriakin.

"Ini," kata yang jual dengan muka kecut menahan ngantuk.

Sutikno menuangkan tiga sendok sambal, sedangkan Amir sibuk berdoa sebelum makan. Perangkat makannya sendok dan sumpit. Sutikno mulai mengaduk mie ayam dan sambal dengan sendok dan sumpit. Kali ini Amir mencomot sumpit Sutikno.

Sutikno lagi-lagi bengong dan bingung. "Bang, minta garpu dong," kata Sutikno kepada penjual mie ayam.

"Gak usah, bang," potong Amir. Si abang penjual mie ayam yang sudah mengambil garpu langsung urung memberikannya ke Sutikno.

"Kenapa?" Sutikno bertanya kali ini kepada Amir. Tapi nada pertanyaannya tanpa sengaja dan meluncur begitu saja.

Amir mulai memakan mie ayam miliknya dengan sendok. Ia potong mie agar bisa terambil dengan sendok. "Nggak boleh pake selain sendok," jawabnya kalem.

Sutikno makin bingung. Makan mie apapun sejak ia kecil dilakukan dengan menggunakan garpu atau sumpit. Orang tuanya mengajarkan begitu. Lingkungan sekitarnya juga begitu. Amir dulu juga begitu, kok. Makan mie pasti dengan garpu atau sumpit. Tapi Sutikno ingat saat mereka masih kecil, pernah juga makan mie pakai tangan. Belum cuci tangan pula si Amir itu. Sutikno jadi tertawa sendiri. Sekejap ia tak ambil pusing dengan dirampasnya sumpit untuk makan mie ayam oleh Amir. Mungkin si Amir mau eksperimen kali, kata Sutikno dalam hati. Makan mie pakai sendok.


Pizza

Sehabis nonton telenovela di televisi, Sutikno ingin makan pizza. Makanan asal Italia itu muncul dalam adegan kencan Miranda dengan Jose Geraldo. Sutikno jadi ngiler. Seperti biasa, Amir nyaut saat Sutikno minta ditemani.

"Pizza Margareta, mbak. Yang pinggirannya keju Mozilla, topping-nya daging, tomat dan jagung muda. Pizza yang rasa rendang loh, mbak. Jangan rasa gulai. Ukurannya yang bisa bikin kenyang, mbak," Sutikno menyebut pesanannya kepada mbak pramusaji. Tak lupa pesanan Sutikno diakhiri dengan seulas senyum manis. Mbak pramusaji mencatat serius pesanan Sutikno meski sering putar bola mata karena bingung. Sementara Amir dari tadi celingak-celinguk melihat sekeliling. Ini kali pertama Amir dan Sutikno menjelajah makanan asing.

Setelahnya pramusaji restoran menyiapkan dua piring makan lengkap dengan pisau dan garpu. Tak lama kemudian pesanan pizza Sutikno datang. "Mbak, tolong bawakan sendok ya," Amir berkata. Sutikno lagi-lagi hanya bisa melongo mendengar permintaan Amir. Mbak pramusaji juga keningnya langsung berkerut.

"Apa, mas?" Tanya mbak pramusaji.

"Sendok," jawab Amir, singkat dan kalem.

"Mir, makan pizza pakai sendok?" Tanya Sutikno sambil berbisik. Ia tak yakin temannya sedang bercanda saat ini. Tapi makan pizza dengan sendok?

"Harus pakai sendok," tegas Amir.

"Pakai tangan aja, Mir," usul Sutikno. Amir menggeleng. Sutikno meringis, ikut juga minta sendok.


Steak

Sutikno sedang ngidam mau makan steak. Ia kemimpi makan daging dengan saus lada hitam. Kok lihat di televisi orang makan begituan bikin ngiler. Tanpa basa-basi, Sutikno pun segera menarik Amir untuk menemaninya makan makanan bule.

Begitu sampai restoran steak Abubakar, Sutikno segera pesan dua piring steak tenderloin. Amir yang juga ikutan baca menu makanan langsung protes. "Satu yang dagingnya wahyu ya, mbak."

"Wahyu?," tanya Sutikno.

Amir mengangguk yakin. "Biar barokah dagingnya. Yang punya wahyu pasti halal."

Si mbak pramusaji menahan tawa. "Wagyu ya, mas?"

Amir tetap mengangguk. Sutikno masih juga bingung. Agak lama ia terdiam sambil mencerna jawaban Amir. Oh, karena dagingnya sudah mendapat wahyu, akhirnya Sutikno sampai pada kesimpulan. Pantas harga dagingnya lebih mahal.

Pesanan datang lengkap dengan garpu dan pisau. Sutikno tak sabar ingin mengiris daging steak kecil-kecil. Aroma saus lada hitam sudah membikin perutnya tak tahan. Lain dengan Sutikno, Amir justru cemberut. "Mbak, saya minta sendok," ujarnya cepat sebelum Mbak pramusaji menghilang.

"Sendok buat apa, mas?" Tanya si mbak pramusaji.

"Untuk makan dong," jawab Amir.

Kali ini Sutikno tak habis pikir kenapa makan steak mesti juga pakai sendok? Kenapa semua makanan yang Amir makan harus menggunakan sendok? Dulu Amir tak begini-begini amat. Ia mengeleng-gelengkan kepala. "Mir, kenapa semua harus pakai sendok?"

Amir menatap kawannya lekat. "Makan apapun tanpa sendok kalau kamu mati bisa masuk neraka, No. Pak Kanjeng pernah bersabda, barang siapa makan tanpa sendok tempatnya di neraka. Makanya kamu belajar yang bener."

Sutikno baru kali ini jiwanya nelongso.


(Jakarta, 24 Januari 2017)

Sunday, January 22, 2017

DINDING

"Saya ingin pagar rumah dibuat dinding," kata Pak Surya sambil menyibakkan lengan kanannya, memaksudkan agar area halaman rumah yang sedang dibangun dibatasi dinding bata. "Seluruhnya," tambahnya.

Arsitektur yang dipekerjakan Pak Surya mengangguk. Ia setuju mengabulkan permintaan kliennya. Namun seketika mendelik, heran. "Pintu masuknya tak hendak dibuat, Pak?"

Pak Surya terdiam sesaat. Matanya terpusat ke depan, ke arah calon pagar dinding rumah yang masih ada di angan-angan. "Buatkan saja satu pintu masuk yang hanya muat untuk satu orang lewat," akhirnya Pak Surya memutuskan dan menganggukkan kepala sendiri dengan mantab.

Pak Surya, pria pertengahan 40 tahun berbadan tegap dan berkepala plontos ini tersenyum. Membangun dinding sebagai pagar adalah impiannya sejak lama. Dinding itu akan menjadi pembatas dunia baru baginya. Sebuah dunia yang lebih subtil, personal, dan eksentrik. Dunia di luar pagar rumahnya adalah dunia yang bising bagi Pak Surya. Orang kiri-kanan, atas-bawah mendadak dirasuki keyakinan fanatik terhadap hendak memelihara kambing atau onta. Harus pilih salah satu, tidak boleh keduanya atau tak memilih apapun. Ini absurd.

Sejak beberapa waktu belakangan, tepatnya saat dunia selebar layar komputer, orang sibuk berkelahi dan mencari massa demi kambing atau onta. Kalau pilih kambing, yang lain masih boleh diversifikasi dengan pelihara sapi, ayam atau bebek. Tapi kalau pilih onta, dan wajib pilih onta maka yang selain onta adalah salah. Saat keduanya bertemu muka bisa-bisa kelahi tanpa ujung. Hulu semua ini disulut oleh kepentingan segelintir orang yang meramu sedikit kebodohan cum kebencian untuk dicekokkan kepada banyak orang.

Orang-orang seperti Pak Surya yang tak mau pilih keduanya lebih banyak diam sembari menyemai bibit lele. Pak Surya sendiri lebih senang pelihara bebek dan melukis. Kalau mereka sudah besar bisa dipotong untuk dimasak dengan bumbu khas Madura.

Dinding yang hendak dibangun Pak Surya selain untuk membatasi dunia luar yang begitu bising dan menjemukkan, juga akan dipakainya menumpahkan yang terlintas dalam pikiran dengan cara yang nyentrik tanpa mengganggu hak orang lain. Ia punya mimpi menggambar angkasa. Lain waktu ia kemimpi menulis puisi dengan kata-kata membara. Ia juga ingin melukis abstrak dan menuangkan yang terpendam dalam ketidaksadarannya. Bahkan, Pak Surya berencana kelak akan menghancurkan dinding itu dengan gada, kemudian dibangun lagi dengan kedua tangannya.

Dinding itu kelak menjadi prasasti hidup Pak Surya. Bahwa ada kebebasan yang ingin ia jaga dan  rawat baik. Ia hendak pelihara bebek dan melukis-menulis apapun di dinding. Orang tak perlu ribut dengan pilihannya. Ia tak mau wilayah kudus itu dirusak oleh mereka yang tengah berperang di luar sana. "Aku tak mau kebebasanku dirusak oleh mereka yang tak menghargainya," Pak Surya berkata suatu kali.

Suatu waktu, beberapa orang dengan bendera dan jubah bergambar onta datang ke rumah Pak Surya. Mereka mau tak mau mesti masuk satu persatu, karena pintu hanya muat dilewati satu orang. Keinginan memasukkan usungan bendera dan atribut lain seperti foto onta terpaksa ditinggal di luar pagar dinding. Tak muat itu semua dimasukkan.

Mereka begitu berisik memanggil-manggil Pak Surya untuk keluar. "Anda pilih berpihak pada yang mana? Onta atau kambing? Jangan hanya diam dan tak memilih salah satu," kata salah seorang di antara mereka begitu Pak Surya yang sedang berada di dalam rumah keluar dan berdiri di muka teras. Pak Surya hanya menatap kerumunan orang yang gaduh di teras rumahnya. Ia merasa aneh dengan kehadiran mereka merangsek masuk ke dalam kediamannya yang adi luhung. Ditatapnya satu persatu orang-orang yang sebagian membalas tatapannya, lainnya sibuk melihat hasil karyanya di dinding yang penuh dengan corat-moret.

"Anda harus memilih. Tidak bisa tidak memilih," yang lain ikut bersuara.

Kwek, kwek, kwek...

Kawanan bebek Pak Surya keluar ke halaman. Pak Surya memang saban siang dan sore membebaskan bebek-bebeknya berkeliaran di sekitar rumah. Ia percaya setiap makhluk hidup butuh jalan-jalan walau hanya sebentar dan menempuh jarak yang tak seberapa jauh.

Kerumunan prajurit onta itu terkesiap dan melototlah mata mereka. Pandangan mereka nyalang. "Kaum munafik! Sesat!" Teriak pimpinan mereka dan disambut pekikan oleh yang lainnya.

Beberapa waktu rasanya mereka terus berteriak-teriak di depan Pak Surya. Pekikan itu pun tersaingi oleh suara bebek-bebek Pak Surya yang juga mendadak ribut. Sementara itu Pak Surya makin bingung melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya. Tiba-tiba Pak Surya sadar akan sesuatu; Suara bebek-bebek dan suara pekikan massa itu terdengar sama! Sama-sama berisik! Ini sungguh hidup yang absurd, demikian ujarnya dalam hati.

Wednesday, January 18, 2017

Hoax

Mona memulas ulang lipstick sewarna darah pada bibirnya yang lebar tebal. Ia cecapkan berulang kali bagian atas dan bawah bibirnya. Tak perlu bantuan cermin untuk memastikan merata atau tidak ulasan lipstick-nya. "Aku tak masalah di media sosial sedang gadrung orang konsumsi berita hoax," ia bicara sambil tetap mencecap bibirnya. "Orang bisa saja membuat kebenaran sendiri tanpa harus didikte oleh siapapun. Bahkan, negara sekalipun! Negara tak boleh turut campur."

Aku lambaikan tangan ke arah pramusaji, memesan lagi secangkir kopi tanpa gula. Pening kepalaku tak kunjung hilang. Bertemu Mona kupikir tadinya akan menjadi hal menyenangkan. Tapi ia justru memulai percakapan mengenai berita hoax yang sedang ramai di masyarakat. Media sosial seperti facebook dan twitter misalnya, riuh orang menyebar berita hoax dan sarat kebencian. Media yang tersertifikasi legal oleh pemerintah dituduh berpihak pada penguasa dan pengusaha. Tanpa pikir panjang jemari-jemari itu ringan saja meng-klik share dan berjalanlah efek domino yang entah bermuara kemana.

Mereka menggunakan agama dan eksklusifitas golongan untuk mengambinghitamkan pihak lain yang minoritas dan tak sepaham. Manusia terpolarisasi untuk memilih salah satu kutub. Sementara mereka yang berada di tengah dan mencoba tak ambil pusing dengan fenomena absurd seperti ini juga kadang menjadi bulan-bulanan dengan stempel munafik.

"Negara seharusnya tak perlu sereaktif itu menanggapi fenomena ini dengan membuat satgas anti hoax dan sejenisnya. Kebenaran itu tak bersifat tunggal," lanjut Mona.

Pramusaji berpenutup kepala itu kembali membawakan pesananku. Sembari menunggu panas kopi menguar, sesekali kupijit dahiku. Sakit ini terus mengganggu. "Kamu menempatkan dirimu dalam posisi serba mungkin dan membuka semua peluang yang hadir untuk dipilih sebagai kebenaran. Otakmu sudah mendapat pengaturan yang fair soal benar dan tidak benar. Tapi orang lain yang tak punya akses pengetahuan secara cukup dan pemahaman yang memadai tentang segala sesuatu akan memilih siapa yang bisa membawa berita itu dengan cara yang paling heroik. Tak peduli lagi benar atau salah. Karena benar menjadi sahih untuk mereka yang punya massa dan pandai mengelolanya."

"Kamu tak menghargai keperbedaan, Sri," tuding Mona. "Negara tidak selalu menjadi pihak yang netral dalam sebuah pertandingan. Ia bisa saja punya kepentingan lain untuk menyelamatkan posisinya selama periode tertentu. Maka, pemerintah tak boleh sampai membuat satgas anti hoax segala. Itu berlebihan dan tak mencerminkan menghargai keperbedaan. Kebenaran itu jamak, Sri. Jamak!"

Aku mendengus. Mona ada benarnya. Negara memang bisa saja tak imbang dalam bersikap. Mona mendelik sengit ke arahku. Aku terima pandangan protesnya padaku. Tanpa negara ikut campur, apa jadinya nasib hoax ini? Seketika aku merasa lapar. Hendak makan apa baiknya ya?

"Tidak semua orang terkarunia hidup dan otaknya sepertimu. Selama urusan perut belum kelar, otak akan lebih abai bicara soal keadilan. Jangan kamu masukkan segala fenomena dalam pembacaan teori filsafatmu. Hidup tak pernah seterang itu. Tak pernah sepolos itu," balasku. "Kau mampu membiarkan kebenaran yang lain tumbuh. Tapi orang lain belum tentu bisa bersikap sepertimu."

Mona menatapku sekilas. Ia tak terima pendapatku. "Negara tetap tak boleh ikut campur soal ini," ulangnya.

Perlahan kuseruput kopiku. Pahit dan asam merasuk melalui lidah dan tertinggal di perut. Rasa nyaman seketika menjalar. "Perbedaan yang tak dikelola baik dan menjelma keresahan akibat mencuatnya gerakan intimidatif membuat kehidupan bernegara menjadi tak nyaman. Tentu negara mesti hadir di sana. Selama negara tidak represif dalam bertindak, itu masih diperbolehkan."

Ganti Mona yang menyeruput minumannya. Tersenyum ia berkata,"Aku tetap tak sependapat denganmu, Sri. Tapi aku tak boleh marah, bukan? Jika marah, maka aku tak terima perbedaan di antara kita."

Aku balas senyuman Sri. Yah, memang begitu idealnya, Mona. Kau berbeda, aku berbeda. Kita memang tak lantas beradu nyawa karena ini. Tapi saat kulemparkan pandanganku ke luar kedai, kiranya kita sama-sama tahu, selain kau dan aku masih ada orang-orang yang rela bersedekah darah untuk tegakkan kebenaran versi mereka. Aku hanya mampu menghela napas dalam-dalam. Lainnya, kepalaku masih tetap sakit dan perutku lapar.

**
(Dimuat juga di http://syahrazade.com/hoax-cerita-fitri-kumalasari/)