Wajah Badrun sumringah. Senyum selebar satu meter terkembang diwajah pas-pasan juragan minyak ini. Meski sudah setengah baya, Badrun masih merasa perkasa. Di hari yang cerah ini Badrun sudah sedia di rumah Pak Amir.
Pak Amir adalah penadah barang. Barang apapun yang bernilai jual ia tampung. Bagi yang ingin jual rumah, ia tampung untuk kemudian jual lagi ke pihak lain dengan harga yang mendatangkan untung. Kadang ia juga menerima tukar tambah langsung.
Badrun meski sudah kaya raya masih mau tukar tambah barang ke Pak Amir. Barang yang ia miliki ini sudah lama dan tak lagi indah, Badrun sudah tak senang. Ia mau ganti yang baru. Siapa tahu Pak Amir punya barang baru yang ia inginkan.
Menempuh perjalanan melewati 10 kecamatan, Badrun sampai juga di rumah Pak Amir. Dengan langkah gagah, Pria berwajah bulat dan perut buncit ini memanggil Pak Amir. Tak berapa lama si empunya rumah keluar, masih sarungan.
"Pak Amir, saya mau menawarkan barang," kata Badrun tanpa tedeng aling-aling. Pak Amir dengan masih setengah sadar menyambut kedatangan Badrun dengan ngucek mata dan diam beberapa jenak. Tak lama Badrun disuruh masuk dan duduk. Dua cangkir kopi pun dibuat sendiri oleh Pak Amir untuk dirinya dan Badrun.
"Kok bukan istrinya yang buat, Pak?" Tanya Badrun begitu cangkir kopi untuknya disuguhkan Pak Amir.
"Gini-gini gua masih sanggup nyeduh kopi sendiri. Sepele itu," jawab Pak Amir. "Mau apa lo kemari, Drun?"
Suguhan secangkir kopi Pak Amir dibalas senyum sumringah lagi oleh Badrun. "Saya mau tukar tambah, Pak. Barangnya sudah lama dan mulai soak. Mau ganti yang kinclong dan mulus."
Pak Amir masih bingung dengan jawaban Badrun. "Usianya sudah 53 tahun. Bodinya masih lengkap, Pak. Cuma memang karena barang lama jadi memuai. Sudah banyak yang aus. Tapi suara makin nyaring."
Itu mobil kayaknya, tebak Pak Amir dalam hati. Ia hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita Badrun. Kalau mobil tua dibenerin bisa dijual lagi ke para kolektor mobil lawas. "Terus lo mau ganti baru sama apa, Drun?"
Kedua alis mata Badrun mendadak naik. Pupil kedua matanya membesar. "Yang seksi, masih baru, belum lecet, dan mulus, Pak," Badrun menjawab cepat.
"Merek apaan?" Tanya Pak Amir.
"Jepang."
Pak Amir masih mengangguk-angguk. "Coba sini gua lihat dulu barangnya."
Badrun langsung bangkit dan keluar menuju halaman. Pak Amir sempat tersentak, tapi tak ambil peduli. Mungkin Badrun mau ambil foto atau lainnya. Pak Amir memilih tetap di dalam dan meniup sayup-sayup kopinya.
Tak berapa lama Badrun kembali dengan seorang perempuan paruh baya bertubuh besar dengan raut wajah cemberut dan siap kelahi. "Ini, Pak. Saya mau tukar tambah sama yang baru," kata Badrun sambil menyodorkan perempuan itu ke arah Pak Amir.
Kopi yang baru diserut Pak Amir langsung tersembur ke arah Badrun. "Bangke! Apa maksud lo, Drun?"
Ternyata barang yang mau Badrun tukar tambahkan kepada Pak Amir tak lain adalah istrinya sendiri. Badrun merasa sudah tak memerlukan istrinya yang sudah tak menarik ini lagi. Bagi si raja minyak ini kalau bisa tukar dengan yang baru buat apa pertahankan yang lama.
Mendengar penjelasan Badrun, Pak Amir langsung merah air mukanya. Disiramnya muka Badrun dengan air kopi hangat-hangat kuku. "Dasar badak! Lo anggap perempuan tuh barang? Seenaknya mau lo tukar tambah. Lo pikir bini lo tamiya?!"
(2 Januari 2017)
No comments:
Post a Comment