Saturday, February 11, 2017

Tanah Harapan

Aku bermimpi ke tanah harapan; Mekah.

Bersama tiga orang kawan; satu adalah kristiani, dua berhijab. Salah seorang di antara dua telah menjadi ibu. Kami datang ke tempat yang belum pernah kami impikan akan kunjungi untuk laksanakan haji. Datang pun kami satu persatu. Yang kristiani dan si lajang lebih dulu berada di sini. Menyusul kemudian si ibu, terakhir aku. Tujuan kami sama; observasi lapangan untuk kepentingan berita. Kami adalah juru berita, wartawan media.

"Kamu hari ini ke Mekah. Laporkan mengenai situasi di sana," begitu kata bosku, sesaat sebelum aku tiba di negeri gurun. Kepalaku berdenyut, pikiranku berlombatan menghindari fokus. Aku masih jauh dari paham mengenai tugas apa yang harus kukerjakan di tanah harapan. Toh, sudah ada tiga kawan perempuan yang lebih dulu berada di sana. Tapi tugas ini tetap aku jalani.

Dalam kilatan waktu yang tak terukur, aku sampai juga di negeri yang diimpikan hampir seluruh warga dunia dapat kunjungi. Bagi mereka, Mekah adalah oase di tengah wilayah berkontur gurun. Ada imaji yang terbangun. Di sana ada surga dan wajah Ilahi. Mekah mengandung nilai spiritual yang dogmatis sekaligus eksotis. Meski demikian, aku bukan salah seorang dari mereka yang memimpikan diri berkunjung kesana. Selain karena kondisi Mekah dengan panas menyengat, hatiku juga belum tersengat imaji-imaji tentangnya.

Aku hanya menyadari diri telah sampai di Mekah. Duduk seorang diri di sebuah bangku panjang dalam ruangan supra luas dengan pendingin ruangan yang efektif menjauhkan orang-orang yang sedang berlalu lalang di depanku dari hawa panas. Seperti bandara? Apakah aku sudah benar-benar tiba di dalam pusaran aktivitas ibadah dekat Ka'bah? Atau aku masih menunggu izin masuk bagiku yang tak berhijab, bercelana jeans, kaos lengan pendek, dan sebuah ransel oleh otoritas berwenang? Aku tak tahu pasti.

Penantianku menunggu petunjuk harus melakukan apa di sini juga belum berakhir. Aku menunggu tugas yang dikirimkan oleh bosku melalui pesan pendek dari telepon selular, tapi tak kunjung datang. Berselang waktu, kawanku bertiga datang menyambutku. Tanpa tukar kata, kami segera beranjak entah kemana.

Aku hanya memandangi berbanyak orang di tempat enigmatik ini dengan beragam tampilan; sebagian lelaki berpakaian gamis dengan harum parfum semerbak. Sekali dua kali orang berjalan gagah dengan jas. Ada juga yang kenakan kacamata hitam sambil menenteng handphone paling canggih. Para perempuan memang lebih banyak menutup diri dengan penutup kepala lebih lebar menjuntai hingga lutut. Petugas keamanan juga melakukan pengawasan dengan bergaya; berbadan besar' berseragam hitam dengan senjata di sabuk pinggang, dan berkaca mata hitam. Seram sekali!

Selain itu lantai bangunan bukan pasir, melainkan ubin keramik ukuran besar. Begitu berkilat dan bersih hingga kita bisa melihat pantulan diri di antara motif keramik. Kiri-kanan adalah deretan toko barang-barang bermerek dunia. Ada tas, sepatu, pakaian, hingga parfum yang dipajang di muka toko. Tempat ini seperti sebuah pusat perbelanjaan megah dan mewah, alih-alih suaka untuk semakin dekat dengan Tuhan.

"Ini sungguh di Mekah?" Tanyaku kepada para kawanku. Mereka mengangguk. Raut wajah cerah menunjukkan mereka telah beradaptasi dengan semua kejanggalan imaji tentang Mekah yang suci. Aku masih tak percaya dengan kenyataan baru ini. Aku sungguh tak menyangka.

Kami menyisir pinggiran area bangunan selayaknya agen keamanan. Pusat bangunan yang disebut Ka'bah adalah sebuah tiang tinggi terpancang di tengah dan kokoh. Ka'bah dikelilingi oleh berbanyak orang - laki dan perempuan - yang berdesakan mengelilinginya dengan syahdu dan khidmat. Sungguh inilah Ka'bah? Beginikah rupanya yang didambakan hingga ke liang lahat bagi mereka yang kemimpi pergi haji? Lengkap dengan semua etalase di sepanjang bangunannya?

Aku terhenyak di sisi selatan Ka'bah. Kawan-kawanku terus berjalan ke depan. Takjub dan keherananku masih menggelayut. Sejenak aku sadar harus menyusul kawan-kawanku agar tak sesat di tempat yang masih janggal bagiku. Tapi kulihat ketiga kawanku berhenti dihadang oleh seorang pria tua berkacamata dan duduk di kursi roda. Aku segera menyusul mereka.

Rambut pria itu telah putih seluruhnya. Ia tersenyum kepada kami. Ia berkemeja putih dan mengenakan celana hitam, alih-alih kain putih yang biasa digunakan para peserta haji. Ia membagikan selembar kertas kepada kami satu persatu. "Apa dan dimana batas dunia bagi manusia?"

Dengan kedepannya mata dan senyum yang masih terkembang, ia ajukan lagi pertanyaan kepada kami,"Apa itu tanah harapan?"

Kupandangi lekat-lekat sekitarku. Aneka toko, ruangan berpendingin udara, manusia-manusia urban sekaligus yang mendamba Tuhan bersatu disini. Di depan Ka'bah, apa dan dimana batas dunia bagi manusia

(Jakarta, 11 Februari 2017)

Thursday, February 2, 2017

TUKAR TAMBAH

Wajah Badrun sumringah. Senyum selebar satu meter terkembang diwajah pas-pasan juragan minyak ini. Meski sudah setengah baya, Badrun masih merasa perkasa. Di hari yang cerah ini Badrun sudah sedia di rumah Pak Amir.

Pak Amir adalah penadah barang. Barang apapun yang bernilai jual ia tampung. Bagi yang ingin jual rumah, ia tampung untuk kemudian jual lagi ke pihak lain dengan harga yang mendatangkan untung. Kadang ia juga menerima tukar tambah langsung.

Badrun meski sudah kaya raya masih mau tukar tambah barang ke Pak Amir. Barang yang ia miliki ini sudah lama dan tak lagi indah, Badrun sudah tak senang. Ia mau ganti yang baru. Siapa tahu Pak Amir punya barang baru yang ia inginkan.

Menempuh perjalanan melewati 10 kecamatan, Badrun sampai juga di rumah Pak Amir. Dengan langkah gagah, Pria berwajah bulat dan perut buncit ini memanggil Pak Amir. Tak berapa lama si empunya rumah keluar, masih sarungan.

"Pak Amir, saya mau menawarkan barang," kata Badrun tanpa tedeng aling-aling. Pak Amir dengan masih setengah sadar menyambut kedatangan Badrun dengan ngucek mata dan diam beberapa jenak. Tak lama Badrun disuruh masuk dan duduk. Dua cangkir kopi pun dibuat sendiri oleh Pak Amir untuk dirinya dan Badrun.

"Kok bukan istrinya yang buat, Pak?" Tanya Badrun begitu cangkir kopi untuknya disuguhkan Pak Amir.

"Gini-gini gua masih sanggup nyeduh kopi sendiri. Sepele itu," jawab Pak Amir. "Mau apa lo kemari, Drun?"

Suguhan secangkir kopi Pak Amir dibalas senyum sumringah lagi oleh Badrun. "Saya mau tukar tambah, Pak. Barangnya sudah lama dan mulai soak. Mau ganti yang kinclong dan mulus."

Pak Amir masih bingung dengan jawaban Badrun. "Usianya sudah 53 tahun. Bodinya masih lengkap, Pak. Cuma memang karena barang lama jadi memuai. Sudah banyak yang aus. Tapi suara makin nyaring."

Itu mobil kayaknya, tebak Pak Amir dalam hati. Ia hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita Badrun. Kalau mobil tua dibenerin bisa dijual lagi ke para kolektor mobil lawas. "Terus lo mau ganti baru sama apa, Drun?"

Kedua alis mata Badrun mendadak naik. Pupil kedua matanya membesar. "Yang seksi, masih baru, belum lecet, dan mulus, Pak," Badrun menjawab cepat.

"Merek apaan?" Tanya Pak Amir.

"Jepang."

Pak Amir masih mengangguk-angguk. "Coba sini gua lihat dulu barangnya."

Badrun langsung bangkit dan keluar menuju halaman. Pak Amir sempat tersentak, tapi tak ambil peduli. Mungkin Badrun mau ambil foto atau lainnya. Pak Amir memilih tetap di dalam dan meniup sayup-sayup kopinya.

Tak berapa lama Badrun kembali dengan seorang perempuan paruh baya bertubuh besar dengan raut wajah cemberut dan siap kelahi. "Ini, Pak. Saya mau tukar tambah sama yang baru," kata Badrun sambil menyodorkan perempuan itu ke arah Pak Amir.

Kopi yang baru diserut Pak Amir langsung tersembur ke arah Badrun. "Bangke! Apa maksud lo, Drun?"

Ternyata barang yang mau Badrun tukar tambahkan kepada Pak Amir tak lain adalah istrinya sendiri. Badrun merasa sudah tak memerlukan istrinya yang sudah tak menarik ini lagi. Bagi si raja minyak ini kalau bisa tukar dengan yang baru buat apa pertahankan yang lama.

Mendengar penjelasan Badrun, Pak Amir langsung merah air mukanya. Disiramnya muka Badrun dengan air kopi hangat-hangat kuku. "Dasar badak! Lo anggap perempuan tuh barang? Seenaknya mau lo tukar tambah. Lo pikir bini lo tamiya?!"


(2 Januari 2017)