"Saya ingin pagar rumah dibuat dinding," kata Pak Surya sambil menyibakkan lengan kanannya, memaksudkan agar area halaman rumah yang sedang dibangun dibatasi dinding bata. "Seluruhnya," tambahnya.
Arsitektur yang dipekerjakan Pak Surya mengangguk. Ia setuju mengabulkan permintaan kliennya. Namun seketika mendelik, heran. "Pintu masuknya tak hendak dibuat, Pak?"
Pak Surya terdiam sesaat. Matanya terpusat ke depan, ke arah calon pagar dinding rumah yang masih ada di angan-angan. "Buatkan saja satu pintu masuk yang hanya muat untuk satu orang lewat," akhirnya Pak Surya memutuskan dan menganggukkan kepala sendiri dengan mantab.
Pak Surya, pria pertengahan 40 tahun berbadan tegap dan berkepala plontos ini tersenyum. Membangun dinding sebagai pagar adalah impiannya sejak lama. Dinding itu akan menjadi pembatas dunia baru baginya. Sebuah dunia yang lebih subtil, personal, dan eksentrik. Dunia di luar pagar rumahnya adalah dunia yang bising bagi Pak Surya. Orang kiri-kanan, atas-bawah mendadak dirasuki keyakinan fanatik terhadap hendak memelihara kambing atau onta. Harus pilih salah satu, tidak boleh keduanya atau tak memilih apapun. Ini absurd.
Sejak beberapa waktu belakangan, tepatnya saat dunia selebar layar komputer, orang sibuk berkelahi dan mencari massa demi kambing atau onta. Kalau pilih kambing, yang lain masih boleh diversifikasi dengan pelihara sapi, ayam atau bebek. Tapi kalau pilih onta, dan wajib pilih onta maka yang selain onta adalah salah. Saat keduanya bertemu muka bisa-bisa kelahi tanpa ujung. Hulu semua ini disulut oleh kepentingan segelintir orang yang meramu sedikit kebodohan cum kebencian untuk dicekokkan kepada banyak orang.
Orang-orang seperti Pak Surya yang tak mau pilih keduanya lebih banyak diam sembari menyemai bibit lele. Pak Surya sendiri lebih senang pelihara bebek dan melukis. Kalau mereka sudah besar bisa dipotong untuk dimasak dengan bumbu khas Madura.
Dinding yang hendak dibangun Pak Surya selain untuk membatasi dunia luar yang begitu bising dan menjemukkan, juga akan dipakainya menumpahkan yang terlintas dalam pikiran dengan cara yang nyentrik tanpa mengganggu hak orang lain. Ia punya mimpi menggambar angkasa. Lain waktu ia kemimpi menulis puisi dengan kata-kata membara. Ia juga ingin melukis abstrak dan menuangkan yang terpendam dalam ketidaksadarannya. Bahkan, Pak Surya berencana kelak akan menghancurkan dinding itu dengan gada, kemudian dibangun lagi dengan kedua tangannya.
Dinding itu kelak menjadi prasasti hidup Pak Surya. Bahwa ada kebebasan yang ingin ia jaga dan rawat baik. Ia hendak pelihara bebek dan melukis-menulis apapun di dinding. Orang tak perlu ribut dengan pilihannya. Ia tak mau wilayah kudus itu dirusak oleh mereka yang tengah berperang di luar sana. "Aku tak mau kebebasanku dirusak oleh mereka yang tak menghargainya," Pak Surya berkata suatu kali.
Suatu waktu, beberapa orang dengan bendera dan jubah bergambar onta datang ke rumah Pak Surya. Mereka mau tak mau mesti masuk satu persatu, karena pintu hanya muat dilewati satu orang. Keinginan memasukkan usungan bendera dan atribut lain seperti foto onta terpaksa ditinggal di luar pagar dinding. Tak muat itu semua dimasukkan.
Mereka begitu berisik memanggil-manggil Pak Surya untuk keluar. "Anda pilih berpihak pada yang mana? Onta atau kambing? Jangan hanya diam dan tak memilih salah satu," kata salah seorang di antara mereka begitu Pak Surya yang sedang berada di dalam rumah keluar dan berdiri di muka teras. Pak Surya hanya menatap kerumunan orang yang gaduh di teras rumahnya. Ia merasa aneh dengan kehadiran mereka merangsek masuk ke dalam kediamannya yang adi luhung. Ditatapnya satu persatu orang-orang yang sebagian membalas tatapannya, lainnya sibuk melihat hasil karyanya di dinding yang penuh dengan corat-moret.
"Anda harus memilih. Tidak bisa tidak memilih," yang lain ikut bersuara.
Kwek, kwek, kwek...
Kawanan bebek Pak Surya keluar ke halaman. Pak Surya memang saban siang dan sore membebaskan bebek-bebeknya berkeliaran di sekitar rumah. Ia percaya setiap makhluk hidup butuh jalan-jalan walau hanya sebentar dan menempuh jarak yang tak seberapa jauh.
Kerumunan prajurit onta itu terkesiap dan melototlah mata mereka. Pandangan mereka nyalang. "Kaum munafik! Sesat!" Teriak pimpinan mereka dan disambut pekikan oleh yang lainnya.
Beberapa waktu rasanya mereka terus berteriak-teriak di depan Pak Surya. Pekikan itu pun tersaingi oleh suara bebek-bebek Pak Surya yang juga mendadak ribut. Sementara itu Pak Surya makin bingung melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya. Tiba-tiba Pak Surya sadar akan sesuatu; Suara bebek-bebek dan suara pekikan massa itu terdengar sama! Sama-sama berisik! Ini sungguh hidup yang absurd, demikian ujarnya dalam hati.
No comments:
Post a Comment