Wednesday, January 18, 2017

Hoax

Mona memulas ulang lipstick sewarna darah pada bibirnya yang lebar tebal. Ia cecapkan berulang kali bagian atas dan bawah bibirnya. Tak perlu bantuan cermin untuk memastikan merata atau tidak ulasan lipstick-nya. "Aku tak masalah di media sosial sedang gadrung orang konsumsi berita hoax," ia bicara sambil tetap mencecap bibirnya. "Orang bisa saja membuat kebenaran sendiri tanpa harus didikte oleh siapapun. Bahkan, negara sekalipun! Negara tak boleh turut campur."

Aku lambaikan tangan ke arah pramusaji, memesan lagi secangkir kopi tanpa gula. Pening kepalaku tak kunjung hilang. Bertemu Mona kupikir tadinya akan menjadi hal menyenangkan. Tapi ia justru memulai percakapan mengenai berita hoax yang sedang ramai di masyarakat. Media sosial seperti facebook dan twitter misalnya, riuh orang menyebar berita hoax dan sarat kebencian. Media yang tersertifikasi legal oleh pemerintah dituduh berpihak pada penguasa dan pengusaha. Tanpa pikir panjang jemari-jemari itu ringan saja meng-klik share dan berjalanlah efek domino yang entah bermuara kemana.

Mereka menggunakan agama dan eksklusifitas golongan untuk mengambinghitamkan pihak lain yang minoritas dan tak sepaham. Manusia terpolarisasi untuk memilih salah satu kutub. Sementara mereka yang berada di tengah dan mencoba tak ambil pusing dengan fenomena absurd seperti ini juga kadang menjadi bulan-bulanan dengan stempel munafik.

"Negara seharusnya tak perlu sereaktif itu menanggapi fenomena ini dengan membuat satgas anti hoax dan sejenisnya. Kebenaran itu tak bersifat tunggal," lanjut Mona.

Pramusaji berpenutup kepala itu kembali membawakan pesananku. Sembari menunggu panas kopi menguar, sesekali kupijit dahiku. Sakit ini terus mengganggu. "Kamu menempatkan dirimu dalam posisi serba mungkin dan membuka semua peluang yang hadir untuk dipilih sebagai kebenaran. Otakmu sudah mendapat pengaturan yang fair soal benar dan tidak benar. Tapi orang lain yang tak punya akses pengetahuan secara cukup dan pemahaman yang memadai tentang segala sesuatu akan memilih siapa yang bisa membawa berita itu dengan cara yang paling heroik. Tak peduli lagi benar atau salah. Karena benar menjadi sahih untuk mereka yang punya massa dan pandai mengelolanya."

"Kamu tak menghargai keperbedaan, Sri," tuding Mona. "Negara tidak selalu menjadi pihak yang netral dalam sebuah pertandingan. Ia bisa saja punya kepentingan lain untuk menyelamatkan posisinya selama periode tertentu. Maka, pemerintah tak boleh sampai membuat satgas anti hoax segala. Itu berlebihan dan tak mencerminkan menghargai keperbedaan. Kebenaran itu jamak, Sri. Jamak!"

Aku mendengus. Mona ada benarnya. Negara memang bisa saja tak imbang dalam bersikap. Mona mendelik sengit ke arahku. Aku terima pandangan protesnya padaku. Tanpa negara ikut campur, apa jadinya nasib hoax ini? Seketika aku merasa lapar. Hendak makan apa baiknya ya?

"Tidak semua orang terkarunia hidup dan otaknya sepertimu. Selama urusan perut belum kelar, otak akan lebih abai bicara soal keadilan. Jangan kamu masukkan segala fenomena dalam pembacaan teori filsafatmu. Hidup tak pernah seterang itu. Tak pernah sepolos itu," balasku. "Kau mampu membiarkan kebenaran yang lain tumbuh. Tapi orang lain belum tentu bisa bersikap sepertimu."

Mona menatapku sekilas. Ia tak terima pendapatku. "Negara tetap tak boleh ikut campur soal ini," ulangnya.

Perlahan kuseruput kopiku. Pahit dan asam merasuk melalui lidah dan tertinggal di perut. Rasa nyaman seketika menjalar. "Perbedaan yang tak dikelola baik dan menjelma keresahan akibat mencuatnya gerakan intimidatif membuat kehidupan bernegara menjadi tak nyaman. Tentu negara mesti hadir di sana. Selama negara tidak represif dalam bertindak, itu masih diperbolehkan."

Ganti Mona yang menyeruput minumannya. Tersenyum ia berkata,"Aku tetap tak sependapat denganmu, Sri. Tapi aku tak boleh marah, bukan? Jika marah, maka aku tak terima perbedaan di antara kita."

Aku balas senyuman Sri. Yah, memang begitu idealnya, Mona. Kau berbeda, aku berbeda. Kita memang tak lantas beradu nyawa karena ini. Tapi saat kulemparkan pandanganku ke luar kedai, kiranya kita sama-sama tahu, selain kau dan aku masih ada orang-orang yang rela bersedekah darah untuk tegakkan kebenaran versi mereka. Aku hanya mampu menghela napas dalam-dalam. Lainnya, kepalaku masih tetap sakit dan perutku lapar.

**
(Dimuat juga di http://syahrazade.com/hoax-cerita-fitri-kumalasari/)

No comments:

Post a Comment